Perguruan Tinggi Menjadi Motor Gerakan Restorasi Sungai

SLEMAN, KRJOGJA.com – Gerakan restorasi sungai atau mengembalikan fungsi sungai yang telah terdegradasi karena intervensi manusia, perlu dilakukan oleh semua pihak secara terus menerus. Perguruan Tinggi dengan jumlah dosen dan mahasiswa yang cukup banyak, bisa menjadi pendorong gerakan restorasi sungai.

Pakar Hidrologi sekaligus Dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, Dr Agus Maryono mengatakan, sungai yang ada di Indonesia termasuk di DIY jumlahnya sangat banyak. Kalau hanya mengandalkan program dari pemerintah tentu akan lambat dan tidak bisa menjangkau keseluruhan. Sehingga perlu ada gerakan restorasi sungai berbasis masyarakat, yang akan terus membesar.

"Perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa mencapai 351.000 orang se-DIY akan sangat efektif sebagai motor pendorong gerakan restorasi sungai ini," ujar Agus dalam Seminar nasional dan call for paper bertema 'Pendekatan Multidisiplin Ilmu dalam Manajemen Bencana' di Ballroom Sahid Jaya Hotel, Babarsari Depok Sleman, Kamis (28/3/2019).  

Seminar dalam rangka Dies Natalis ke-10 Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo) menghadirkan pembicara lain, pakar manajemen bencana Rahmawati Husein MCP PhD dan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unriyo, Dr Fransiska Lanni MS.

Menurut Agus, salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh perguruan tinggi yaitu dengan mengadakan sekolah sungai yang mendiskusikan apa saja terkait sungai. Selain itu menjadwalkan mahasiswanya untuk melakukan kegiatan bersih-bersih sungai. "Kalau itu bisa dilakukan secara berkelanjutan tentu dampaknya sangat luar biasa bagi pemulihan lingkungan sungai sekaligus mengedukasi masyarakat untuk menjaga sungai," ujarnya.

Fransiska Lanni mengatakan, Unriyo berkomitmen mensukseskan program pemerintah dalam hal mitigasi bencana. Menurutnya, sesuai dengan kebijakan Kemenristekdikti, Unriyo mulai memasukkan materi mitigasi bencana ke dalam kurikulum. Selain itu juga memasukkan mitigasi bencana ke dalam materi orientasi mahasiswa baru, disamping bela negara dan antikorupsi.

Dijelaskan Fransiska, Unriyo memiliki tim relawan kesehatan yang telah diterjunkan membantu pemulihan korban pascabencana di Palu dan Lombok. "Melalui seminar ini Unriyo ingin mendorong para peserta untuk mendukung program manajemen dan mitigasi bencana. Sehingga diharapkan bisa mengantispasi dan mengurangi risiko bencana," tuturnya. (Dev)

 

BERITA REKOMENDASI