Perlu Literasi Humanis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

SEMARANG,KRJOGJA.com- Dosen senior Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes yang juga Koorprodi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Pascasarjana (PPs) Unnes Prof. Dr. Hj. Ida Zulaeha, M.Hum akan dikukuhkan oleh Rektor UNNES, Prof. Dr. H. Fathur Rokhman, M.Hum. sebagai guru besar bidang Ilmu Pendidikan Bahasa, FBS di auditorium Unnes, Senin (14/05/2018) ini.

Kepada pers di Semarang, Minggu (13/05/2018), Prof. Dr. Hj. Ida Zulaeha, M.Hum yang lulusan S1 IKIP Negeri Malang, S2 UGM,  dan S3 UPI Bandung ini pada pengukuhannya menyampaikan pidato 'Model Pembelajaran Menulis Bahasa Indonesia Berbasis Mutikultural untuk Peningkatan Literasi Humanis dan Kesadaran Berbahasa'.  

Menurutnya, di era Revolusi Industri 4.0 dengan kondisi Indonesia yang multikultural (beragam bahasa, etnis, adat istiadat) membutuhkan respon yang cepat dan tepat dalam pendidikan bahasa, terutama pelajaran Menulis Bahasa Indonesia.

“Perlu ada inovasi model pembelajaran berbasis multikultural khususnya aspek menulis Bahasa Indonesia yang dapat meningkatkan literasi humanis dan kesadaran berbahasa. Literasi humanis merupakan kesadaran dalam membaca fenomena konteks sosio-kultural dan mutikultural melalui menyimak dan membaca  kemudian menuangkan gagasan dalam tulisan yang mencerminkan nilai-nilai menghargai sesama, toleran, empati, dan peduli kepada sesama terutama yang berbeda budaya” ujar Prof. Dr. Hj. Ida Zulaeha, M.Hum yang sudah sangat lama menggeluti berbagai penelitian bidang Pendidikan Bahasa berbasis multikutural ini, termasuk mendapatkan Hibah Bersaing selama 2 tahun (2007-2008 dan 2009-2011). 

Di sisi lain, ujar Prof. Ida Zulaeha, literasi humanis menjadi pilar penentu dalam hidup masyarakat multikulkural pada era revolusi industri 4.0 yang serba cepat,  tanpa batas, dan  tanpa tatap muka bisa berkomunikasi dengan orang yang beda budaya dan beda bangsa. 

Di era ini, konflik bisa terjadi, tetapi generasi muda peserta didik (mahasiswa dan siswa) Kompetensi literasi humanis menjadi penyelamat atau pengaman bagi mereka untuk tidak mengalami konflik sosial. Selain itu, kesadaran berbahasa, terutama bahasa Indonesia, menjadi pilar penentu jati diri bangsa Indonesia.

“Bahasa Indonesia menjadi penghela ilmu pengetahuan dan di sisi lain juga sebagai jati diri bangsa karena bahasa cermin bangsa. Tanpa kesadaran berbahasa dalam berkomunikasi terutama yang tidak tatap muka, satu dengan yang lain bisa saling mem-bully dan menyerang." 

"Penggunaan bahasa yang tidak santun dan tidak memakai kode yang sesuai dengan ragamnya bisa menyebabkan konflik sosial. Akan tetapi, jika generasi muda memiliki kompetensi kesadaran berbahasa, mereka akan selamat dan bangsa kita aman dari gerusan bahasa asing yang masuk di Indonesia” ujar Prof. Ida Zulaeha yang juga telah melakukan penelitian di kalangan mahasiswa serta siswa SMPN 1 Kudus, SMP Dominico Savio Semarang, SMP Al Azhar Semarang, SMA Negeri di Pekalongan, dan mahasiswa di Semarang (Sgi)

BERITA REKOMENDASI