Perubahan Status UNY Menjadi PTN BH Tetap Tidak Akan Menaikkan UKT

TANGERANG, KRJOGJA.com – Perubahan Status Universitas Negri Yogyakarta (UNY) menjadi Perguruan Tinggi Negri berbadan hukum (PTN BH) tetap tidak akan menaikkan uang kuliah tunggal (UKT) dan menjadi Kampus Pendidikan.

Universitas Negeri Yogyakarta UNY, terus berupaya meningkatkan kinerja, baik di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan seluruh elemen, yakni dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa serta stakeholder terkait. Harapannya, Universitas Negeri Yogyakarta secara kelembagaan dapat menjadi institusi pendidikan yang unggul, inovatif, dan kreatif. Dalam skala lebih, Universitas Negeri Yogyakarta terus berupaya untuk menghadirkan pendidikan bermutu, sebagaimana tercantum dalam agenda SDGs.

Dengan perubahan status UNY menjadi PTN BH tidak akan menaikkan tarif uang kuliah tunggal (UKT). “Capaian ini, semoga menjadi pemicu dan pemacu agar UNY terus berupaya untuk berprestasi, baik di tingkat nasional dan internasional, jaya lembaganya, sejahtera warganya,” tegas Rektor UNY, Prof. Sumaryanto dalam acara sarasehan 5 PTN PK-BLU di Kampus UT, Tangerang Selatan, Jumat (7/1/2021).

Hal senada diakui Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof Ojat Darojat memastikan status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) tidak akan menaikkan uang kuliah tunggal (UKT) di kampus tersebut.

“Kalau UT berstatus PTNBH maka mahasiswanya semakin banyak, maka dipastikan biaya UKT akan semakin murah lagi dibandingkan saat ini, karena biaya operasionalnya tetap dan mahasiswanya bertambah maka biaya UKT bisa saja turun,” ujar Ojat.

Dia memastikan jumlah mahasiswa banyak tersebut tidak akan mempengaruhi kualitas UT. Pasalnya UT sudah memiliki standar pembelajaran yang harus dipenuhi.

Ojat membandingkan bagaimana kampus terbuka di Tiongkok dan India dengan jutaan mahasiswa, tetapi kualitas tetap terjaga.

Rektor UT Prof Ojat Darojat menyatakan, saat ini UT tengah memasuki suatu tahapan baru dalam dunia industri pendidikan di Indonesia. Tak bisa dipungkiri, sebelumnya UT memiliki peran monopoli dalam pasar Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) karena UT menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang mengusung pembelajaran jarak jauh. Dengan monopoli tersebut, UT menjadi “bayi bongsor” (disebut bongsor karena jumlah mahasiswa yang mencapai lebih dari 340 ribu) yang kurang kompetitif. Kemudian, kondisi berubah saat dunia menghadapi Pandemi Covid-19 dan memasuki era disrupsi.

“Di masa pandemi banyak perguruan tinggi yang mengusung dual mode system, yaitu tatap muka dan pembelajaran jarak jauh. Bermunculan mode kompetensi baru yang membuat UT harus maju bersaing dengan perguruan tinggi konvensional lainnya. Untuk bisa bertahan, maka UT harus meningkatkan kualitas dan kuantitas layanannya,” jelas Ojat.

Hal tersebut mendorong UT untuk naik kelas menjadi PTNBH. Peningkatan status tersebut menjadi satu bagian penting agar UT dapat merangkul semua aspek yang dibutuhkan. Dengan menjadi PTNBH, UT mempunyai otonomi sebagai perguruan tinggi yang dapat membuka serta menutup program studi sendiri sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga UT mempunyai otonomi akademik yang lebih luas. Dengan demikian, tantangan dari Pemerintah untuk mengelola 1 juta mahasiswa dapat segera diwujudkan.

UNY

BERITA REKOMENDASI