PT Indonesia Harus ‘Kejar’ Paten/HKI

SEMARANG,KRJOGJA.com- Ketua Umum Asosiasi Sentra Kekayaan Intelektual Indonesia (ASKII) Dr Budi Agus Riswandi SH MHum menyebut tahun 2017 merupakan titik balik riset Indonesia karena dimulainya paradigma baru terkait riset. 

Yaitu riset berbasis keluaran (output) atau hasil, bukan lagi mengejar tertib administrasi seperti masa sebelumnya yang dianggap para dosen dan peneliti sangat merepotkan. Output bisa berupa tulisan jurnal internasional, jurnal nasional, Patent, HKI dan lain sebagainya.

"Mengutip Menristekdikti, saat ini sebagai masa keemasan riset Indonesia ditandai lonjakan jumlah jurnal internasional bereputasi. Indonesia menyalip beberapa negara tetangga yang selama ini berada di atas ranking Indonesia soal jumlah jurnal internasional” ujar Dr Budi Agus Riswandi yang juga dosen UII Yogyakarta usai mengisi Workshop Nasional Manajemen Sentra Kekayaan Intelektual (KI)  dan Penguatan Kemahiran Komersialisasi Hasil Litbang yang diselenggarakan UPGRIS Semarang bekerjasama dengan ASKII di Semarang, Senin (04/12/2017).

Menurutnya, kondisi naiknya jumlah jurnal internasional sangat baik ditopang dengan kewajiban dosen berpangkat Lektor Kepada dan Guru Besar menulis jurnal internasional. Namun akan menjadi lebih baik lagi kalau nantinya persoalan Kekayaan Intelektual ditempatkan di posisi yang lebih penting karena Kekayaan Intelektual/HKI atau paten sangat berdampak luas ke industri dan ke masyarakat lebih sejahtera.kondisinya.

"Dengan besarnya dana riset Indonesia mencapai Rp 1,4 Trilyun, kalau output penelitian berupa HKI dan komersialisasi ke industri maka manfaatnya bisa segera dinikmati masyarakat selain peneliti, pemerintah dan perusahaan." (Sgi)

BERITA REKOMENDASI