SDM Harus Kompeten dan Kuasai Literasi Digital

YOGYA, KRJOGJA.com – Dampak revolusi industri 4.0 pada industri kemaritiman salah satunya, munculnya transportasi otomatis bahkan tanpa awak dengan sistem data digital super canggih. Seperti contoh Kapal Husler-68 berbedera Tiongkok yang merupakan kapal tanpa awak dengan misi menjaga keamanan laut Tiongkok. 

Oleh karena itu sangat jelas bahwa yang perlu dipersiapkan di bidang industri kemaritiman saat ini adalah sumber daya manusia yang kompeten dan mampu menguasai teknologi berbasis literasi data tingkat tinggi. Demikian dikatakan Direktur Akademi Maritim Yogyakarta (AMY) Dr Wegig Pratama kepada KRJOGJA.com di ruang kerjanya kampus AMY, Jalan Magelang Yogyakarta, Kamis (1/8/2019).

Menurut Wegig, perguruan tinggi kemaritiman harus tanggap dalam menyikapi perubahan paradigma yang terjadi, dengan merumuskan grand design perubahan kurikulum yang berbasis pendekatan human digital. Selain itu melakukan penyesuaian sarana-prasarana pembelajaran yang berbasis teknologi informasi, analisis big data dan komputerisasi. "SDM yang punya kompetensi yang merefleksikan kecanggihan tekonologi dan literasi data akan lebih inovatif serta adaptif pada lingkungan kerjanya," ujarnya.

Dijelaskan Wegig, era digitalisasi pada revolusi industri 4.0 di dunia kemaritiman melibatkan 9 langkah besar yang menjadi fokus utama perubahan dan perkembangan. Yaitu cyber-physical system, robotics and outonomy, cyber security dan internet of things at sea sebagai pendukung konektivitas antara kapal dan stasiun pantai dengan satelit. Kemudian ada augmented reality, simulation and optimazation, open system integration. 

Sembilan tahap/langkah besar tersebut sudah selayaknya menjadi bahan pertimbangan untuk penyusunan kurikulum pada perguruan tinggi kemaritiman yang ada di Indonesia. Hal tersebut supaya output yang dihasilkan perguruan tinggi kemaritiman Indonesia punya outcome yang sesuai dengan permintaan atau kebutuhan pasar kerja. "Para lulusan harus dibekali dengan kemampuan dan ketrampilan teknologi yang tinggi yang melampaui kriteria minimal standar pelaut internasional," ujarnya.

Selain konversi kurikulum berbasis digital, sarana dan prasarana pembelajaran harus tersedia secara memadai dan sesuai tujuan pendidikan yang ditetapkan. Salah satu contohnya keberadaan laboratorium simulator agar peserta didik belajar sesuai kenyataaan di tempat kerja sebagai pelaut. Tak kalah penting tenaga pendidik yang kompeten dan menguasai teknologi digital sehingga lulusannya sesuai dengan kebutuhan perkembangan industri kemaritiman dunia. (Dev)

BERITA REKOMENDASI