Teknologi Serbuk Tingkatkan Nilai Tambah Produk Pertanian

SOLO, KRJOGJA.com – Kedepan produk produk yang berbasis pada serbuk sangat dibutuhkan di Indonesia. Karena itu teknologi serbuk harus dikuasai, agar mampu menghasilkan aneka produk yang memiliki nilai fungsional dan ekonomi tinggi. Di bidang pertanian, teknologi polder diyakini sebagai satu terobosan untuk meningkatkan nilai tambah.

Baca Juga: Pemerintah Tutup Mata, Wacana Impor Cabai Menyakiti Hati Petani

"Dengan teknologi serbuk, hasil pertanian bisa dirobah memiliki nilai ekonomi tinggi dan memiliki sifat fungsional yang lebih banyak dibandingkan bentuk primernya," jelas Prof Dr Djagal Wiseso Marseno, dari Universitas Gadjah Mada (UGM) di sela The International Conference and Exhibition on Powder Technology Indonesia (ICePTi) di Hotel Best Western Solo Baru, Selasa (20/8/2019).

Menurut Prof Jagal, bahan-bahan hasil pertanian (hayati) sifatnya rowa (makan ruang). Hal ini sangat menyulitkan dalam pengiriman, selain  juga mudah rusak. Untuk meningkatkan nilai ekonomis produk pertanian dibutuhkan pengolahan. Salah satunya melalui teknologi serbuk. "Dengan teknologi serbuk produk pertanian menjadi lebih awet atau tidak mudah rusak," terangnya.

Teknologi polder juga dapat dipakai  untuk menggarap berbagai produk yang lain termasuk mineral. Sejumlah pakar dari berbagai perguruan tinggi membentuk Masyarakat Teknologi Serbuk Indonesia (MTSI). Melalui wadah ini mereka akan memberi rekomendasi terkait pengembangan dan pemanfaatan teknologi serbuk untuk mengolah berbagai produk yang ada.

Baca Juga: Panen Gagal, Petani di Jateng Mulai Ajukan Klaim Asuransi

Pakar nanotechnology Prof Dr Eng I Made Joni dari Unpad Bandung menambahkan MTSI diharapkan dapat mempertemukan mitra potensial bagi berbagai perusahaan lokal dan dari Jepang yang bergerak di bidang manufacturing powder process. 

Panitia Icepti 2019 Dr Danar Praseptiangga mengatakan konferensimenampilkan 24 pembicara dari 5 negara dari Jepang, India, Thailand, Taiwan dan tuan rumah Indonrsia. Sebagai plenary speaker Assoc Prof Dr Mikio Sakai (The University of Tokyo, Japan).(Qom)

BERITA REKOMENDASI