Terlalu Birokratis, Banyak Aturan Bisa Hambat Wirausaha

YOGYA, KRJOGJA.com – Pengembangan bisnis era 4.0 harus sadar betul akan perubahan dan kecakapan teknologi. Perubahan membawa konsekuensi terjadi pergeseran orientasi kehidupan manusia. 

Bisnis era 4.0 banyak aturan akan menghambat wirausaha. Bisnis eta 4.0 ingin cepat, transparan, cepat menghasilkan dan tidak banyak aturan atau terlalu birokratis. 

Demikian diungkapkan Prof Edward Buckingham MBA PhD dari Monash University Australia dalam diskusi ilmiah di kampus 1 UAD, Jalan Kapas, Semaki, Selasa (27/8/2019). Kuliah umum bertema Pembangan Bisnis dalam Era 4.0 diadakan atas kerja sama Monash University dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dibuka dan diberi pengantar Dr Salamatun Asakdiyah MSi (Dekan FEB-UAD).

Diskusi ilmiah juga menghadirkan narasumber  Rai Rake Setyawan MSA PhD (dosen Ekonomi Pembangunan FEB-UAD) dengan moderator Dr Ema Nurmaya (dosen prodi Manajemen FEB-UAD).

Menurut Edward Buckingham, wirausaha di Indonesia diposisikan seperti 'pahlawan revolusi', kalau berhasil 'diagung-agungkan'. Wirausaha kalau berhasil memiliki kapital sosial di belakangnya juga pengaruhnya. Kapital sosial juga berdampak kepercayaan yang besar. Pada bagian lain Edward juga menyinggung soal bisnis era 4.0 dituntut melakukan inovasi. "Kalau todak melakukan inovasi lama-lama digerus yang mampu melakukan inovasi," ujarnya. 

Logika perusahaan besar menguasai yang kecil tidak sepenuhnya benar. Banyak perusahasn besar justru gulung tikar karena tidak melakukan inovasi. Dengan kekuatan teknologi sekat sekat bisa ditembus.

Diskusi diawali dengan pemaparan materi oleh Rai Rake Setyawan yang mengingatkan, bisnis harus melihat keinginan pasar. Era 4.0 orang ingin serba cepat, murah dan mudah.

Dr Salamatun Asakdiyah dalam sambutan antara lain mengatakan, diskusi ilmiah bertujuan untuk update wawasan atas perkembangan bisnis di era 4.0. Hal ini dapat meningkatkan kualitad pembelajaran akademik para dosrn dan mahasiswa.(Jay)

BERITA REKOMENDASI