UGM Ubah Limbah Batik Jadi Air Bening

SLEMAN, KRJOGJA.com – Peneliti Departemen Kimia FMIPA UGM, Dr Noto mampu mengembangkan alat pengolah limbah batik. Air keruh hasil limbah batik mampu diubah menjadi air bening memenuhi ambang baku normal. 

Bersama Dr Fean D Sarian dari Kochi University Technology Jepang dan Dr Ahmad Kusumaatmaja, Dr Noto menciptakan penghancur limbah zat warna dengan metode elektrolisis. Alat ini dinilai bisa membantu industri batik kecil dan menengah yang selama ini kesulitan mengurai limbah. 

“Pengolahan limbah batik selama ini yang dilakukan hanya menyaring padatan saja, sedangkan zat kimia dan zat warna tidak terproses masuk ke tanah. Padahal zat itu kalau tak terproses dan masuk ke sumur bisa membahayakan kesehatan masyarakat,” ungkapnya pada wartawan Sabtu (1/2/2020). 

Air yang disaring dengan alat bernama Electro-DE ini mampu mendapatkan standarisasi sesuai ambang batas. Jadi, tak hanya dibuang ke saluran air saja, air limbah bisa kembali digunakan untuk proses pembuatan kain batik lagi. 

“Alat ini sudah digunakan oleh perajin batik di Gulurejo Lendah Kulon Progo. Alat kami buat portable dengan dimensi 40x50x60 cm dengan daya listrik 500 watt dengan harapan mudah dipindahkan dan tidak menyulitkan para perajin batik,” ungkapnya lagi. 

Mesin ini diklaim mampu menamping 50 liter limbah cair dengan konsentrasi zat warna 100 miligram/liter. Dalam sehari mesin mampu beroperaai 8-10 jam non stop dengan kemampuan proses limbah 500 liter perhari. 

Alat Electro-DE sendiri dibuat sejak 2017 dan sudah mengantongi paten. Saat ini jika diproduksi massal, alat tersebut menelan biaya Rp 80 juta namun bisa digunakan dengan masa hingga 20 tahun. (Fxh)

UGM

BERITA REKOMENDASI