Unimus Kembangkan Makanan dan Sayuran Tradisional

SEMARANG,KRJOGJA.com – Dewasa ini pengaruh global, pesatnya teknologi pangan dan perdagangan serta perkembangan era informasi menjadikan banyak masyarakat Indonesia, termasuk generasi muda, menyukai produk makanan dan minuman cepat saji.

Meski praktis, mudah didapat dan sejumlah keunggulan lainnya, dari sisi kesehatan jenis makanan ini relatif kurang sehat dan menjadi salah satu sebab berbagai penyakit seperti darah tinggi, jantung, kolesterol, asam urat serta kegemukan. Makanan cepat saji ini mengubah gaya hidup dan pola makan masyarakat terutama yang sibuk. 
 
“Makanan cepat saji biasanya padat kalori, tinggi kolesterol dan asam lemak jenuh yang tidak diimbangi dengan serat, vitamin dan mineral dari bahan-bahan nabati. Padahal makanan tradisional, termasuk dari Jateng sangat sehat dan mengandung zat zat berguna bagi tubuh seperti cukup seimbang komposisi karbohidrat, protein, serat, mineral dan vitamin. Generasi muda banyak yang sudah tidak kenal jenis makanan sehat tradisional seperti “kimpul, uwi, kerut/garut, ganyong, tiwul, growol, blenduk atau grontol".

Sudah saatnya makanan tradisional yang terbukti sehat ini makin diberdayakan, difungsikan dan dikembangkan di Indonesia serta kalau perlu untuk ekspor. Generasi mudanya juga harus diedukasi dan diberi contoh langsung makanan sehat ini” ujar dosen Program Studi Teknologi Pangan dan Prodi Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Semarang Unimus) Dr Siti Aminah MSi kepada pers di kampus setempat, Sabtu (29/12/2018).

Siti Aminah termasuk salah satu dosen Unimus yang “memprovokasi” mahasiswa  prodi itu mengkonsumsi makanan tradisional, mensosilisasikan ke masyarakat , mengembangkan dan melakukan serangkaian penelitian laboratorium pangan di Unimus. Terbukti mahasiswa sangat senang dengan warna warni umbi-umbian seperti ubi ungu, ubi oranye/kuning dan uwi yang berpotensi sebagai antioksidan.Juga berbagai sayuran daun maupun sayuran buah serta beras merah, beras hitam, sorgum, dan jagung kuning saat ini menjadi pusat perhatian dan kajian pangan fungsional bagi para peneliti. Juga bahan alam rempah-rempah, selain aromatik dari minyak atsiri yang bermanfaat sebagai antibakteri, antijamur, antioksidan,  dan berbagai manfaat kesehatan lain.

“Disamping manfaat fungsional dari zat warna dan komponen non gizi lainnya, bahan pangan lokal berpotensi dikembangkan menjadi produk kekinian sebagai bahan baku maupun subtitusi dengan bahan lainnya."

"Sehingga ketergantungan pada impor bahan pangan menjadi kerkurang dan makin mandiri. Untuk itu berbagai strategi dilakukan untuk pendayagunaan bahan lokal sehingga masyarakat kembali tertarik dan dapat mengkonsumsi produk lokal yang padat gizi, sehat dan kaya manfaat.Mahasiswa ternyata sangat antusias pada penggunaan dan pengembangan bahan pangan lokal atau tradisional ini dan banyak pula yang produk yang telah mereka hasilkan” tandas Siti Aminah yang juga Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah ini. (Sgi)

 

BERITA REKOMENDASI