KKN PPM UMY Rintis Destinasi Wisata Petik Buah Salak di Grogolsari

MAGELANG, KRJOGJA.com – Program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan pendampingan Dusun Grogolsari, Mranggen Kabupaten Magelang untuk menjadi destinasi wisata petik buah salak dengan pendekatan pelestarian lingkungan.

Menurut Dosen Ilmu Pemerintahan UMY yang juga inisiator, program ini karena besarnya potensi salak di Dusun Grogolsari.  Kegiatan yang diikuti 20 orang peserta ini diadakan dua kali pelatihan. Pelatihan pertama menyasar kepada bapak – bapak dan pemuda di desa Mranggen yang mayoritas sebagai petani salak. Pelatihan kedua menyasar ibu-ibu rumah tangga, yakni pelatihan pembuatan Brownis Salak dan pemanfaatan Limbah Kulit Salak menjadi Kerajinan.

Program ini merupakan kerjasama antara Program Studi Magister Ilmu Pemerintahan (S2) dan Program Studi Ilmu Pemerintahan (S1) yang melibatkan Dosen dengan mahasiswa, mahasiswa S2 yang dilibatkan dalam pengabdian ini ialah Anang Setiawan SIP dan Resky Eka Rachmandani SIP dan mahasiswa S1 ialah Ramadhani.

Pelatihan petama ialah pelatihan pelatihan pembuatan pupuk organik Adapun yang ikut dalam pelatihan pembuatan pupuk organik adalah perwakilan dari kelompok tani dan kelompok wanita tani yang ada di Desa Mranggen.

Pelatihan dibuka oleh Dr. Suswanta MSi selaku Sekprodi Magister Ilmu Pemerintahan, Suswanta. Dalam sambutannya, Suswanta berharap pelatihan tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat khususnya petani salak. “Penduduk di Mranggen mayoritas sebagai petani salak pondoh sehingga dengan adanya pelatihan ini semua masyarakat bisa beralih ke pertanian organik. “Pertanian organik khususnya salak pondoh dapat meningkatkan nilai jual salak bahkan bisa ikut ekspor ke luar negeri sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Mranggen,” ujar Suswanta.

Dr Suswanta MSi juga berharap agar semua peserta bisa mengikuti pelatihan tersebut hingga selesai dan nantinya bisa menularkan ilmu kepada masyarakat lainnya, dan diharapkan masyarakat juga bisa mengembangkan desa wisata petik salak.

Narasumber pembuatan pupuk organik adalah Sapto Qiptanto, sosok yang sudah lama berkecimpung di bidang pertanian organik. Pelatihan diawali dengan pemaparan teori cara pembuatan maupun komposisi dan bahan yang tepat untuk membuat pupuk organik. Dilanjutkan dengan praktik pembuatan pupuk oleh peserta pelatihan.

“Pembuatan pupuk organik ini sangat bermanfaat bagi masyarakat petani dan semua ilmu yang didapat nantinya bisa disampaikan kepada semua anggota kelompok kami,” kata Sapto Qiptanto.       (*)

BERITA REKOMENDASI