LPPM UPN Veteran Yogyakarta Dorong Modernisasi Kelompok Produsen Kopi

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) mendorong pemberdayaan masyarakat melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tudung Tani sebagai mitra. Kegiatan Pengabdian bagi Masyarakat (PbM) ini dilaksanakan oleh Dosen UPNVY Edy Nursanto dan Dwi Hari Laksana.

KUB Tudung Tani ini terletak di Desa Giritirto, Karanggayam, Kebumen, Jawa Tengah. Melalui Program Kemitraan Masyarakat kepada Mitra KUB Tudung Tani ini akan diberikan fasilitas, kesempatan berusaha, dan pendampingan.

Tim PbM UPNVY juga memberikan sosialisasi, edukasi, dan praktik langsung terkait ilmu pertanian, pengetahuan tentang ilmu desain, dan pengemasan produk. KUB Tudung Tani merupakan kelompok usaha yang bergerak di bidang ekonomi produktif yang beranggotakan 3 kelompok tani, yang diketuai oleh Teguh Prasetyo.

Edy menuturkan, usaha perkebunan kopi masyarakat ini memang sudah menjadi sentra di desa Giritirto. Produk andalannya berupa kopi kemasan Gemplong dan Kopiku, yang sudah menjadi mata pencarian pokok masyarakat Giritirto dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kelompok ini berdiri pada tahun 2015, dan terbentuk dengan tujuan untuk memberikan wadah bagi para penanam perkebunan kopi kayu sehingga akan mempermudah mereka dalam pengadaan bahan baku maupun pemasaran hasil produksi.

“Salah satu kelebihan sentra kemasan kopi ini adalah kemasan kopi murni dengan harga yang relatif murah dengan sasaran pangsa pasar konsumen menengah ke bawah,” ujarnya, Minggu (04/04/2021).

Proses pemasaran hasil produksi di awal usaha ini berdiri, dilakukan dengan menjual kopi dengan kemasan sederhana pada warung-warung di desa dan di pasar. Sejalan dengan kemajuan teknologi pengeringan dan kemasan, penjualan kopi sudah mulai lebih baik pemasarannya.

“Para pengrajin belum terbiasa dengan sistem penjualan atau pemasaran online sebagaimana saat ini telah menjadi salah satu metode pemasaran yang efektif,” ungkapnya.

KUB ini dalam mengembangkan usahanya perlu tambahan peralatan pengering oven dan pelatihan pemasaran terutama secara online. Di samping itu, pengembangan usaha itu juga harus dibarengi dengan pembinaan di bidang yang lain seperti keterampilan di bidang administrasi, pembinaan di bidang manajemen keuangan, dan juga di bidang manajemen pemasaran. “Supaya usaha kelompok tani ini membawa hasil seperti yang diharapkan,” imbuhnya.

Hal ini yang membuat Teguh Prasetyo dan juga pengurus KUB Tudung Tani yang lain sangat antusias untuk menjadi mitra pada kegiatan PbM ini. Kelompok ini sangat berharap dengan berbagai pendampingan dan pelatihan dari kalangan akademisi yang mampu membawa perubahan dan kemajuan besar bagi KUB tersebut.

Berdasarkan analisis situasi kelompok tani di desa Giritirto yang dipimpin oleh bapak Teguh Prasetyo selaku ketua KUB Tudung Tani dan beberapa orang anggota, maka dapat diidentifikasi permasalahan permasalahan sebagai berikut:

Dwi menyampaikan, masalah keterbatasan peralatan juga menjadi kendala utama bagi berkembangnya KUB ini. Melalui, modernisasi peralatan diharapkan membuat waktu pengerjaaan menjadi lebih cepat dan hasil produksi lebih halus.

Selanjutnya, keterampilan akan sistem administrasi yang baik serta pembukuan yang bersifat akuntabel diharapkan membuat KUB ini mudah dalam mendapatkan bantuan permodalan dari lembaga keuangan.

Selain itu, keterampilan penyusunan proposal bantuan permodalan diharapkan membuat KUB ini memperoleh berbagai bentuk bantuan permodalan yang saat ini banyak ditawarkan oleh perusahaan maupun instansi pemerintah.

“Pemasaran online atau digital marketing diharapkan bisa meluaskan jangkauan areal pemasaran dari usaha KUB ini. Dan, Modernisasi organisasi diharapkan bisa menarik minat generasi muda untuk menjadi penggerak KUB,” ucapnya.

Edy menjelasakan, pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Dalam kerangka hal tersebut, upaya memberdayakan masyarakat, dapat dilihat dari dua sisi.

Pertama, menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). Kedua, memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat (empowering).

Penguatan ini meliputi langkah-langkah nyata, dan menyangkut penyediaan berbagai masukan (input), serta pembukaan akses ke dalam berbagai peluang (opportunities) yang membuat masyarakat menjadi makin berdaya. “Keberadaan program khusus bagi masyarakat yang kurang berdaya menjadi sangat mutlak untuk dilakukan,” terangnya.

Karena, program-program umum yang berlaku untuk semua, tidak selalu dapat menyentuh lapisan masyarakat ini. Pemberdayaan ekonomi rakyat tidak hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga merupakan tanggung jawab masyarakat.

“Terutama mereka yang telah lebih maju. Karena, mereka telah terlebih dulu memperoleh kesempatan, bahkan memperoleh fasilitas yang tidak diperoleh kelompok masyarakat lainnya,” jelasnya. (*)

BERITA REKOMENDASI