Dosen UMY Kembangkan Alat Terapi Bagi Pasien Insomnia

Editor: Agus Sigit

KRJOGJA.com – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melalui hasil penelitian Dosen Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan membuat inovasi yang berhubungan dengan alat kesehatan pemacu tidur elektrik guna mengatasi gangguang tidur/insomnia.

Insomnia merupakan suatu kondisi kesulitan tidur atau gangguan tidur yang terjadi minimal 3 kali seminggu dan telah menjadi masalah selama minimal 1 bulan. Hal tersebut tentu mengganggu aktivitas sehari-hari. Dampak yang ditimbulkan dari insomnia salah satunya pertambahan angka kecelakaan serta penurunan kualitas kehidupan, dan fungsi individu. Tidak hanya itu, insomnia juga memengaruhi kondisi kesehatan, seperti hipertensi dan obesitas. Insomnia digolongkan sebagai gangguan tidur yang paling sering terjadi di masyarakat dalam kesehariannya. Sekitar 20% hingga 40% orang dewasa dilaporkan mengalami insomnia. Angka kejadian gangguan tidur semakin meningkat ketika seseorang memasuki usia lanjut.

Insidensi insomnia pada usia 30-50 tahun sebesar 5% sedangkan pada orang yang berusia lebih dari 50 tahun sebesar 30%. Gangguan tidur ini merupakan salah satu alasan paling sering untuk mendatangi tenaga medis ataupun mengonsumsi obat. Obat-obatan yang paling sering dipakai meliputi agen sedative seperti benzodiazepine. Namun, obat-obatan perangsang tidur tentu menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan seperti gangguan pada ingatan, resisitensi obat, ketergantungan, bahkan kecanduan, hal tersebut mendorong untuk ditemukannya terapi bukan obat pada penderita insomnia.

Sebelumnya telah dikembangkan terapi bukan obat untuk mengatasi insomnia diantaranya akupuntur dan akupresur. Keduanya merupakan metode pengobatan tradisional cina yang dilakukan dengan menempatkan sejumlah tekanan pada area tubuh menggunakan ujung jari atau peralatan lain untuk membuat pasien merasa lebih baik. Keduanya bekerja dengan mengubah impuls dan pesan yang dikirim syaraf menuju otak, namun terapi akupuntur menggunakan jarum sedangkan akupresur menggunakan tekanan.

Kedua alat tersebut dirasakan oleh terapis kurang praktis, hal tersebut disebabkan dalam praktiknya memerlukan orang banyak Namun, perlu dibuat inovasi yang lebih lanjut dalam menjalankan akupresur untuk menangani insomnia. Selain itu, Invensi terkait dengan mengobatan insomnia pernah dibuat oleh inventor tiongkok dengan nomor paten CN211584238U. Namun, invensi tersebut masih memiliki kendala terkait kepraktisan dan kenyamanan dalam penggunaan.

BERITA REKOMENDASI