Inovatif! Dosen UMY Olah Limbah Tinja Jadi Biogas Ramah Lingkungan

Editor: Agus Sigit

Peneliti Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta membuat inovasi alat pengolah limbah tinja yang dapat menghasilkan energi biogas dan limbah ramah lingkungan. Alat tersebut dibuat berbahan pipa PVC dengan instalasi berbentuk horizontal dan vertikal dengan sudut dan ukuran tertentu.

Banyak masyarakat yang menganggap bahwa proses penguraian tinja hanya berlangsung satu tahapan, dimana desain yang dibuat hanya menggunakan 1 ruang pengolahan yang disebut Tangki Septik (biasanya disebut Septic Tank). Perlu kita ketahui bahwa penguraian tinja melalui tiga proses tahapan, yaitu: proses aerobik, proses pengendapan, dan proses anaerobic. Sistem tangka septik yang menggunakan satu tahapan tidak mampu memisahkan proses aerobik serta anaerobik sehingga proses penguraian tinja tidak dapat bekerja secara optimal serta menyebabkan tinja tidak terurai dan juga konstruksi pengolah tinja sering kali menjadi penuh sebelum pada waktunya.

Hal lain yang juga jarang diketahui oleh masyarakat adalah pemanfaatan kandungan metan sebagai gas yang dapat digunakan untuk sebagai sumber bahan bakar untuk kebutuhan memasak. Berdasarkan hal diatas Dr. Muhammad Heri Zulfiar, S.T., M.T., seorang peniliti dan dosen dari Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melakukan inovasi melalui risetnya yang menghasilkan sistem pengolahan tinja berbasis pipa yang mampu menghasilkan sumber energi bahan bakar biogas.

Berdasarkan Data paten Nomor S00201200222 / IDS000001556  pada Pangkal Data Kekayaan Intelektual Dirjen Kekayaan Intelektual (PDKI DJKI) Kemenkumham RI, prinsip dari invensi ini adalah memanfaatkan potensi gas dari limbah tinja dalam Tangki Septik dengan mengoptimalkan proses tahapan serta desainnya, sehingga dapat menghasilkan gas metan secara maksimal dan mampu digunakan sebagai energi alternatif yang dapat digunakan dalam skala rumah tangga.

Konsep invensi ini adalah membuat konstruksi yang terdiri dari 3 ruangan terpisah berbasis pipa PVC, Fiber Glass, atau sejenisnya, yang disesuaikan dengan tahapan penguraian. Metode untuk menghasilkan gas metan pada invensi ini adalah dengan membuat proses an-aerob di ruang kedap (tidak bocor) yan bertujuan agar gas yang dihasilkan tidak bocor keluar.

 

Gambar di atas menunjukkan beberapa bagian dari invensi ini diantaranya: pipa horizontal (10), pipa kecil vertical (20), pipa besar vertical (30), dan pipa besar horizontal (40). Pipa kecil terletak dalam pipa besar, yang berfungsi sebagai proses aerobik untuk mengurai tinja yang masuk dengan air, udara yang kaya akan oksigen, serta suhu dan kelembaban tertentu. Hal tersebut terjadi karena pemasangan pipa tambahan yang terhubung dengan udara luar. Dengan kondisi tersebut, maka laju penguraian kotoran di pipa kecil menjadi lebih baik. Proses pengendapan kotoran terjadi pada pipa besar vertical. Hal tersebut terjadi karena perubahan berat jenis kotoran akibat penguraian oleh bakteri arob serta memunculkan tekanan gaya angkat.

Proses penguraian kotoran serta munculnya gas metan terjadi pada dasar pipa besar vertical yang tertutup. Hal tersebut terjadi karena penguraian oleh bakteri anaerob yang tidak membutuhkan oksigen namun memerlukan kelembaban tertentu serta suhu yang stabil. Kotoran dan gas metan yang telah dihasilkan akan terangkat naik dan tertampung pada pipa besar horizontal. Gas metan disalurkan melalui pipa tambahan ke tempat penampungan gas untuk selanjutnya digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak.

Menurut Dr. M. Heri Zulfiar yang juga merupakan ahli manajemen konstruksi, invensi ini memiliki perbedaan yang signifikan apabila dibandingkan dengan pengolahan limbah sederhana (tangki septik) yang ada pada umumnya, yaitu bentuknya yang lebih mudah dipasang serta memanfaatkan gas (metan) sebagai sumber energi bahan bakar untuk memasak. Hal lain yang juga menjadikan inovasi adalah pengoptimalan saluran pipa pembuangan ke resapan atau sungai yang berfungsi sebagai proses penguraian limbah, sehingga diharapkan akan mengurangi lahan pembuatan tangki septik konvensional serta beban biaya pembuatannya. Selain itu kotoran (slurry) yang dihasilkan dapat dibuang secara langsung dengan mengurangi dampak terhadap lingkungan, atau hasil pembuangan yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk (composting).  (*)

BERITA REKOMENDASI