Pemerataan Pembelajaran saat Pandemi dengan Kampus Mengajar

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bekerjasama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) membuka program beasiswa Kampus Mengajar angkatan 1 dengan sasaran daerah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T). Program ini merupakan salah satu bagian dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dicanangkan langsung oleh Mendikbudristek Nadiem Makarim.

Salah satu mahasiswa peserta Program Kampus Mengajar, Asyifa Amalia Sanubari dari Program Studi (Prodi) Sastra Inggris Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta mengungkapkan, Pandemi Covid-19 yang saat ini masih melanda di berbagai negara termasuk Indonesia, salah satu dampaknya adalah kegiatan belajar mengajar yang tidak dapat dilakukan secara langsung melainkan secara online atau daring.

Namun, tidak semua sekolah dapat melakukan kegiatan belajar mengajar secara daring, seperti di daerah pelosok yang memang tidak memiliki kapasitas sinyal yang memadai. Hal ini pun perlu menjadi perhatian agar pemerataan dapat dijalankan.

“Tujuan dari Kampus Mengajar ini yaitu membantu sekolah untuk memberikan pelayanan pendidikan yang optimal kepada semua siswa agar tetap bisa belajar meskipun dengan kondisi yang terbatas  dan kritis akibat dari pandemi ini,” ujarnya, melalui siaran pers, Jumat (25/6/2021).

Asyifa bersama teman-temannya yaitu Hanifa dari UPI, Hapsah dan Firdhan dari UNPAS, Rizka dari UNSIL dan juga Sandi dari UNINDRA. Mereka menjadi satu kesatuan yang mendapatkan kesempatan untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi dengan cara membantu di Sekolah Dasar (SD).

Penugasan mereka di SD Negeri 1 Citundun, Ciwaru, Kuningan, Jawa Barat, 22 Maret sampai dengan 25 Juni 2021. Tiga poin penting yang menjadi amanah bagi mereka yaitu membantu Mengajar, Adaptasi teknologi, dan juga membantu Administrasi Manajerial.

“Sekolah di kampung tapi ngga kampungan,” ucap Setiyo Iswoyo selaku Training Manager di Millennia 21st Century Academy saat memberikan pembekalan sebelum penugasan 15-20 Maret 2021 lalu, secara virtual, .

Asyifa menuturkan, untuk menuju sekolah, Tim Kampus Mengajar harus melewati bukit dan jalan yang berliku dan licin akibat lumpur. Menurut Asyifa, ini menjadi cambuk bagi mereka untuk tetap eksis di sekolah penugasan untuk memberikan edukasi yang bermanfaat bagi siswa-siswi disana.

“Di daerah sini tidak memiliki kapasitas sinyal yang memadai, sehingga mereka tidak dapat menerapkan kegiatan belajar mengajar secara daring melainkan secara luring,” ungkapnya.

Namun, semangat siswa untuk menimba ilmu tidak boleh diragukan, karena pada kenyataannya mereka merindukan suasana belajar dan duduk di kelas bersama teman-temannya seperti saat sebelum Pandemi Covid-19.

Selama penugasan ini, Asyifa memaksimalkan waktunya untuk bisa hadir disekolah meskipun perjalanan cukup jauh, hal karena ini sudah menjadi kewajiban yang sudah dipilih.

Oleh karena itu, semangat siswa-siswi ini menjadi semangat bagi Asyifa. Selain itu, program adaptasi teknologi juga diterapkan dan dijalankan pada siswa kelas 4 yang memang akan mengikuti wacana kegiatan Asesmen Kompetensi Minimun (AKM) dari pemerintah.

Siswa-siswi sangat antusias dengan pelatihan metode pembelajaran melalui Personal Computer (PC) ini. Dan, Asyifa berharap agar ini menjadi inovasi dan motivasi bagi tenaga pengajar disana agar mengadakan latihan seperti ini, minimal satu minggu sekali.

“Senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman dari beda Universitas sekaligus bertemu adik-adik di sekolah dengan jarak yang cukup jauh dan keadaaan yang sesuai kapasitas di sana. Ini seperti mimpi, mimpi yang menjadi kenyataan,” imbuhnya.

Asyifa teringat dengan filosofi dari Sam Ratulangi bahwa “Si tou timou tumou tou” yang artinya manusia baru dapat disebut sebagai manusia jika telah memanusiakan manusia.

Dan, menurut Asyifa, kegiatan ini menjadi salah satu jembatan untuk meningkatkan rasa kepedulian sosial tanpa memandang siapa dan darimana kita berasal.

Melalui pendidikan, apakah aku, kamu, kita sudah bisa memanusiakan manusia khususnya bagi diri sendiri umumnya bagi orang lain?

“Karena pada dasarnya, basic saya bukan dari Pendidikan, namun ini menjadi pengalaman baru bagi saya untuk lebih dekat dengan sesama juga alam. Tetap menebar kebaikan selama nafas masih diberikan,” ucapnya. (*)

BERITA REKOMENDASI