PKM UMY Perkuat Dakwah Melalui Multimedia

YOGYA, KRJOGJA.com – Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melakukan pengabdian masyarakat dalam bentuk  penguatan dakwah multimedia pada Komunitas Pemuda Penggiat Dakwah di DIY.

Ketua Program Cahyo Setiadi Ramadhan yang juga Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam UMY mengatakan pengabdian dilakukan terhadap komunitas atau pelaku aktivitas di dunia maya (netizen). Komunitas atau netizen tersebut berdomisili atau bertempat tinggal di Yogyakarta. Satu komunitas yaitu pengiat media Imania berada di Sleman dan beberapa komunitas yaitu Kholiq Creative, ICC Counselor, dan Kamar Koz beraktivitaas di daerah Bantul.

Adapun waktu kegiatan yaitu dari Maret 2020 hingga Agustus 2020 dengan beberapa rangkaian kegiatan. Sasaran tidak langsung dari kegiatan ini yaitu masyarakat yang mengakses media baru khususnya media sosial. Kebanyakan pengakses media sosial merupakan masyarakat usia muda hingga dewasa awal, namun bisa juga masyarakat dewasa menengah dan lansia juga mendapatkan manfaat dari kegiatan ini.

Adapun sasaran langsung kegiatan ini yaitu komunitas yang mengelola media dengan konten dakwah yaitu yang masih dalam tahap pengembangan dan masih berusaha untuk eksis. Adapun komunitas yang mendapatkan manfaat dari kegiatan ini yaitu Imania, Kholiq Creative, ICC Counselor, dan Kamar Koz.

Jumlah keseluruhan peserta berbagai rangakian kegiatan yaitu 20 orang dari beberapa komunitas yang menghadirkan media dakwah online. Berbagai rangkaian kegiatan dalam program ini ditujukan agar komunitas penggiat dakwah online yang didampingi dapat menghasilkan konten yang baik dan dapat menyebarkan pesannya ke lebih banyak khalayak. Dengan kata lain, selain konten yang bagus dan menarik diharapkan juga para komunitas tersebut dapat memviralkan konten dakwah mereka.

“Proses kegiatan dimulai dari koordinasi antara tim dosen dari UMY dengan koordinator beberapa komunitas yang didampingi. Koordinasi tersebut menghasilkan kesepakatan untuk melaksanakan beberapa rangkaian kegiatan peningkatan kemampuan atau kapasitas masing-masing komunitas dalam memproduksi dan menyebarkan konten dakwah media sosialnya.

Namun, karena pada April 2020 terjadi pandemi dan kegiatan belum terlaksana maka disusun langkah untuk melakukan rangakian peningkatan kapasitas tersebut melalui komunikasi online ataupun sinkronus atau sebagian onlien dan sebagian tatap muka/offline.

Kegiatan pertama yaitu pelatihan pembuatan konten media dakwah dan branding media dakwah dilakukan secara online dan offline/sebagian tatap muka pada 22 April 2020. Materi disampaikan oleh Zulfi M Ifani MSi.

Setelah itu dilakukan pelatihan cara meningkatkan branding media dakwah yang disampaikan oleh Dr Imam Suprabowo. Pada 5 Mei 2020 dilakukan pelatihan viralisasi media dakwah secara online atau tidak bertatap muka langsung, bersama ahli SEO yaitu Bapak Didik Arwinsyah. Selain itu, pada hari Ahad 18 Mei 2020 dilakukan pelatihan pengelolaan media dakwah yang disampaikan oleh Bapak Zulfi M. Ifani, M.Si. Pelatihan-pelatihan terebut dilakukan secara online.

Kondisi  libur lebaran menjadikan kegiatan vakum selama sepekan. Setelah aktif, kegiatan dilanjutkan dengan koordinasi kembali bersama koordinator komunitas-komunitas yang didampingi. Hasil koordinasi diputuskan bahwa akan diberikan bantuan kepada masing-masing komunitas untuk menjadi sumber daya awal menerapkan hal-hal yang sudah dipelajari pada kegiatan-kegiatan sebelumnya.

Penerapan itu dalam hal produksi konten dan juga upaya memperluas jangkauan konten. Kepada masing-masing komunitas diberikan bantuan sumberdaya untuk memproduksi dan menyebarkan konten. Pada akhir Agustus dan awal September dilakukan evaluasi terhadap praktik yang dilakukan masing-masing komunitas.

Para ketua komunitas yaitu Saudara Dandi dari Imania, Bhekti dari ICC Counselor, Alim Javier dari Kholiq Creative, Saudara Kautsar dari Kamar Koz, dan Sandi yang mengasuh akun media sosial Rumah Terapi Tauhid menyatakan bahwa mereka merasa senang mendapatkan pendampingan.

Mereka juga berharap agar kegiatan serupa atau bentuk dampingan lainnya dapat terus diadakan bagi komunitas mereka. Walaupun demikian sebagaian mengeluhkan pelaksanaan kegiatan secara online sehingga mempengaruhi tingkat konsentrasi mereka ketika mengikuti kegiatan.

Walaupun terjadi perubahan rencana dari kegiatan yang akan dilakukan secara tatap muka penuh menjadi kegiatan yang dilakukan secara online atau sinkronus/online sebagaian, namun hasil kegiatan dapat dirasakan. Hasil kegiatan terlihat dari terus munculnya konten-koknten dakwah pada masing-masing komunitas tersebut. Selain itu, masing-masing koodinator termasuk anggota komunitas berkomentar positif mengenai kegiatan yang dilakukan ini. (*)

BERITA REKOMENDASI