PKM UMY Tingkatkan Minat dan Kompetensi Seni dan Budaya Jepang

YOGYA, KRJOGJA.com – Japanese Club SMAN 4 Yogyakarta mendapatkan pendampingan dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kegiatan yang dilakukan mengusung tema ‘Peningkatan Minat dan Kompetensi Seni dan Budaya Jepang Melalui Shodo’.

Ketua Program Pengabdian Wistri Meisa MPd mengatakan kegiatan berlangsung, 28 Oktober dan 5 November 2020. Peserta  adalah sebanyak 15 siswa-siswi anggota Aoibara, Japanese Club SMAN 4 Yogyakarta.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan solusi atas permasalahan mitra pengabdian, Aoibara, Japanese Club SMAN 4 Yogyakarta,” kata Wistri Meisa kepada KRjogja.com.

Dari hasil observasi dan wawancara dengan pembina Aoibara, Pipit Pebriani Puspitasari SS, diketahui bahwa permasalahan mitra dilatarbelakangi dengan  minimnya minat siswa terhadap bahasa Jepang karena materi bermuatan budaya tidak ditawarkan, khususnya dalam klub bahasa Jepang.

Kegiatan klub baru seputar pembahasan materi kebahasaan dan tidak termasuk materi seni dan budaya Jepang. Hal ini menyebabkan kompetensi seni dan budaya siswa juga masih terbatas. Padahal, pembelajaran bahasa tidak terlepas dari pemahaman konteks budaya dan sosial (Chaer, 2009).

Pentingnya penguasaan kompetensi seni dan budaya dilandasi oleh dampak positif terhadap pembelajaran bahasa. Pengalaman budaya dapat mengasah intuisi berbahasa seseorang. Kompetensi tersebut juga dapat diasah dengan mengikuti lomba-lomba yang sering diselenggarakan oleh lembaga pendidikan bahasa Jepang, baik informal maupun formal seperti sekolah menengah atas atau perguruan tinggi.

Lomba tersebut misalnya berupa lomba odori, manga hingga shodo yang seluruhnya berfokus pada kompetensi seni dan budaya. Shodo, merupakan salah satu produk seni dan budaya Jepang yang cukup familiar bagi orang Indonesia karena ia juga populer dikenal sebagai “kaligrafi Jepang”.

Shodo memang merupakan suatu seni kaligrafi, bagaimana cara menulis kanji dalam tatanan tertentu dan memiliki nilai filosofi mendalam. Nilai filosofi inilah yang dapat menggambarkan situasi sosial masyarakat Jepang sebagai pengguna bahasa native. Pemahaman pembelajar asing terhadap hal tersebut pada akhirnya akan berpengaruh kepada strategi berkomunikasi dalam bahasa Jepang.

Pada intinya, dengan kegiatan ini diharapkan siswa-siswi yang tergabung dalam Aoibara, Japanese Club SMAN 4 Yogyakarta dapat lebih berminat terhadap seni, bahasa dan budaya Jepang. Selain itu mereka juga mendapatkan kompetensi budaya baru yang dapat diasah melalui pendampingan yang diberikan sehingga nantinya mereka dapat berpartisipasi dalam kompetisi shodo lokal atau regional.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara daring menggunakan aplikasi Zoom. Pertemuan pertama diselenggarakan pada hari Rabu, 28 Oktober 2020 dan pertemuan kedua pada hari Kamis, 5 November 2020 Kegiatan dibuka dengan sambutan ketua program pengabdian Wistri Meisa, M.Pd dan sambutan oleh mitra, yaitu Pipit Pebriani Puspitasari, S.S selaku pembina Aoibara, Japanese Club SMAN 4 Yogyakarta.

Pada pertemuan pertama terdapat dua sesi, yaitu sesi pengenalan huruf kanji dan shodo serta sesi pelatihan. Sesi pertama diisi oleh narasumber pakar bidang Kanji, Dedi Suryadi, MEd PhD dengan materi pengenalan huruf Kanji.

Sesi materi kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi mengenai Shodo oleh pembimbing divisi shujikai Wistri Meisa MPd. Kedua sesi materi dimoderatori oleh Azizia Freda Savana, M.Pd.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan shodo oleh Annissa Sindia Anandhitya selaku instruktur dari divisi shujikai Nikigakka. Sesi pelatihan meliputi pelatihan teknik dasar shodo. Pertemuan kedua merupakan lanjutan dari kegiatan berupa pendampingan melukis shodo hingga di akhir kegiatan peserta mampu menulis frase kanji dalam shodo. Kegiatan kemudian ditutup dengan penutupan dari ketua program dan sepatah dua patah kata dari mitra pengabdian oleh pembina Aoibara.

Pembina Aoibara, Pipit Pebriani Puspitasari, SS juga menambahkan bahwa kegiatan sangat baik dan berharap agar selanjutnya diselenggarakan kembali kegiatan serupa yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan mitra.

Kegiatan dalam program pengabdian ini dapat memberikan solusi bagi permasalahan mitra, yaitu meningkatkan minat seni, bahasa dan budaya Jepang pada siswa-siswi anggota Aoibara. Meskipun pelaksanaan kegiatan terkendala pandemi COVID-19, besar harapan tim pengabdian serta mitra pengabdian agar kegiatan selanjutnya dapat dilakukan secara luring. (*)

 

BERITA REKOMENDASI