PKM UMY Latih Membuat Batik Tulis dan Cap Ibu-ibu Dusun Sembung

SLEMAN, KRJOGJA.com – Sebanyak 25 orang anggota Kelompok Ibu-ibu PKK Dusun Sembung, Purwobinangun, Kabupaten Sleman mengikuti ‘Pelatihan Membuat Batik Tulis dan Cap untuk Meningkatkan Keterampilan. Kegiatan ini berupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Pelatihan sendiri  sudah berlangsung sejak awal 2020 dengan dosen pendamping Dr Nanik Prasetyoningsih SH MH, selaku Dosen Magister Ilmu Hukum UMY. “Pelatihan batik yang dilaksanakan di Dusun Sembung bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membatik untuk mendorong motivasi keterlibatan ibu-ibu dalam meningkatkan ekonomi keluarga,” papar Ninik Prasetyoningsih dalam siaran pers yang diterima KRjogja.com.

Menurut Ninik, batik memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga diharapkan akan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga masyarakat Dusun Sembung. Selain pelatihan batik tulis dan batik cap juga diberikan pelatihan pembuatan batik sibori. “Di awal pertemuan, dilakukan sosialisasi tentang nilai ekonomi batik,” ujar Ninik.

Dalam pelatihan pembuatan batik tulis dan cap ini peserta diarahkan untuk membuat desain batik yang khas Dusun Sembung. Selanjutnya peserta diajari cara menuliskan motif batik ke kain. Proses ini dalam bahasa Jawa disebut  “ngeblad”, lalu dilanjutkan dengan pelajaran menempelkan malam (sejenis lilin khusus untuk batik) ke kain.

Proses ini disebut dengan “”nyanting”” (bahasa Jawa). Setelah itu proses mewarnai, dengan menggunakan warna alami. Proses ini disebut “”nyelup”” (dalam bahasa Jawa). Batik yang sudah diwarnai lalu dijemur, dan setelahnya direbus untuk melepaskan malam dari kain. Proses ini disebut “”nglorot”” (bahasa Jawa).

Sedang pelatihan batik sibori peserta dibebaskan untuk membuat motif sibori, dengan memanfaat barang yang dipunyai, seperti kelereng, pensil, stik es krim, karet. Motif sibori bisa dikreasi dalam bentuk lingkaran, kotak, segitiga, atau tidak beraturan. Setelah kain terbentuk, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.

“Workshop pembuatan batik ini hanya bisa terlaksana satu kali, dikarenakan ada wabah covid19, sehingga aktivitas Dusun untuk sementara waktu ditiadakan dan dibatasi. Sehingga sampai sekarang pendampingan dan workshop belum bisa dilaksanakan,” kata Ninik.

Peserta seniri sangat senang dengan diadakan pelatihan tersebut, karena membatik adalah keterampilan baru bagi mereka, dan bisa mendatangkan nilai ekonomi bagi keluarga. Peserta bersemangat untuk mengikuti workshop pembuatan batik, dengan harapan batik hasil karya mereka dapat dijual untuk mendapatkan tambahan penghasilan bagi keluarga

Kegiatan pengabdian masyarakat yang diinisiasi LP3M UMY ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Dusun Sembung, khususnya Ibu-Ibu PKK. Batik memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga hasil batik dapat membantu perekonomian warga, disamping juga upaya untuk melestarikan budaya batik yang menjadi khas Yogyakarta.(*)

BERITA REKOMENDASI