Mahasiswa KKNT-2 UAA Edukasi Pemilahan Sampah Bernilai Rupiah Bersama Aplikasi Rapel

user
danar 18 Oktober 2021, 22:30 WIB
untitled

HINGGA saat ini sampah masih menjadi permasalahan yang mendarah daging di kehidupan sehari-hari masyarakat, bahkan menjadi salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan secara global. Masyarakat masih beranggapan bahwa sampah itu kotor, menjijikan dan tidak bermanfaat. Hal tersebut memunculkan kebiasaan, cara pandang dan budaya bahwa sampah sudah semestinya dibakar dan dibuang jauh dari lingkungan tempat tinggal, karena selain dianggap tidak lagi bernilai manfaat, sampah akan mengundang sumber penyakit bagi kesehatan. Kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah yang baik dan benar menjadi sulit dikarenakan kebiasaan masyarakat masih berpedoman pada ajaran lawas 'Buanglah Sampah Pada Tempatnya', padahal membuang sampah pada tempatnya saja tidak cukup. Melainkan sampah harus dipilah sesuai jenisnya agar dapat dikelola dengan baik dan benar.

Dalam upaya membangun pemahaman, kesadaran dan kepedulian terhadap pengelolaan sampah, Mahasiswa Universitas Alma Ata (UAA) melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) kelompok 1 Guwosari menyelenggarakan kegiatan 'Sosialisasi Pengelolaan Sampah Bernilai Rupiah'. Sasaran dari kegiatan ini adalah ibu-ibu kader PKK di Dusun Gandekan, Kelurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul. Dalam kegiatan tersebut mahasiswa mengundang Marta Yenni AKS, perwakilan dari PT Wahana Anugerah Energi yang lebih dikenal melalui produknya yaitu RAPEL (Rakyat Peduli Lingkungan), sebuah aplikasi masa kini yang bergerak dibidang pengelolaan sampah anorganik.

"Langkah awal dan mudah yang dapat dilakukan ibu-ibu rumah tangga adalah membagi sampah hasil kegiatan sehari-hari kedalam 2 kategori; yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari sisa makhluk hidup baik manusia, hewan maupun tumbuhan yang mudah terurai secara alami meskipun tanpa proses campur tangan manusia untuk dapat terurai. Sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang sudah tidak dipakai kembali dan sulit terurai," jelas Marta Yenni, Minggu (10/10/2021).

Selanjutnya, darimana nilai rupiah yang akan didapat dengan mengelola sampah? Pada acara tersebut disampaikan kak Marta, bahwa sampah organic dapat menjadi nilai ekonomis dan menghasilkan rupiah bila dikelola menjadi pupuk kompos, maupun untuk budidaya maggot atau lalat BSF (Black Fly Soldier). Pada budidaya maggot, sampah basah organic dijadikan makanan maggot atau larva dari BSF yang mana larva tersebut akan bermetamorfosis menjadi pupa yang kaya akan protein dan dapat dijadikan sebagai pakan ternak. Di dusun Gandekan sendiri sudah terdapat budidaya magot yang merupakan program dari PHB2D mahasiswa IMM Fisipol UMY yang merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat dalam hal ini sasarannya adalah karang taruna.

“Di Indonesia ini terdapat industri daur ulang sampah yang masing-masing mesinnya hanya dapat mengelola jenis sampah yang sangat spesifik sesuai bahan dasarnya, dan mesin tersebut selalu membutuhkan bahan baku. Bahan baku yang dimaksud adalah sampah anorganik yang dihasilkan dari sisa kegiatan masyarakat. Itulah mengapa sampah anorganik harus dipilah. Lalu bagaimana masyarakat dapat menyalurkan sampah anorganiknya ke industri daur ulang? Ada 2 jenis metode yang dapat dilakukan, yaitu melalui kegiatan Bank Sampah dan Donasi Sampah. Keduanya tidak jauh berbeda, keduanya dapat dimulai dengan cara tiap warga memisahkan sampah anorganik kedalam beberapa kategori, sampah hasil pilahan warga dikumpulkan di gudang penampungan sementara. Selanjutnya bila hendak meningkatkan nilai jual, maka perlu dilakukan pemilahan sampah anorganik secara lebih rinci, semakin rinci pengkatagorian sampah semakin tinggi harga beli yang diberikan," imbuh Marta.

Terakhir, sampah yang sudah dipilah tersebut akan dijemput olah tim Rapel, dan dihargai sesuai hasil penimbangan pada masing-masing jenis sampah. Nantinya Rapel yang akan menyalurkan sampah pilahan tersebut ke industry daur ulang untuk dijadikan bahan baku. Hasil penjualan sampah yang diterima dapat dibagi kepada tiap-tiap nasabah atau anggota Bank Sampah maupun untuk kepentingan bersama.

Ada banyak sampah anorganik yang dapat disalurkan melalui Rapel, yang terbagi dalam 5 kategori besar, yaitu; kategori kertas (kardus, kertas arsip, kertas buram, koran, sak semen, duplex, dan kemasan tetrapak), kategori plastic (PET botol, PP gelas, HDPE, kerasan, emberan, plastic warna, plastic lembar non aluminium foil, CD bekas, galon, PS kaca, dan PVC bakas), kategori logam (kaleng, aluminium, aluminium sari, besi, tembaga, kuningan, dan logam lainnya), kategori beling (botol beling bening besar/kecil botol beling warna besar kecil) dan kategori jelantah atau minyak bekas pakai. Secara garis besar, materi disampaikan oleh Marta Yenni AKS dari Rapel meliputi edukasi pengelolaan sampah, pemilahan sampah sesuai jenisnya, bentuk pengelolaan Bank Sampah dan Donasi Sampah, serta pemanfaatan sampah organik maupun anorganik.

"Dengan adanya kegiatan ini harapan besar dari tim KKN Tematik Kelompok 01 Universitas Alma Ata Yogyakarta di Dusun Gandekan, Guwosari, Pajangan, Bantul adalah agar ibu-ibu dan masyarakat memiliki kepedulian terhadap lingkungan, dan dapat konsisten dalam memilah sampah sehingga terbentuk sircular economy dan ketahanan pangan dari kegiatan masyarakat itu sendiri tanpa perlu mengeluarkan banyak modal," ujar Marsuking, S.E., M.Akt, DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) dengan beranggotakan 11 mahasiswa yang berasal dari beberapa program studi antara lain Ilmu Gizi, Akuntansi, Perbankan Syariah, Ekonomi Syariah, Pendidikan Agama Islam, dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Sebagai penutup, warga dipesan agar jargonnya tidak lagi 'Buanglah Sampah pada Tempatnya' tetapi 'Pilahlah Sampah, dan Letakkan Sesuai Jenisnya' harapannya masyarakat dapat lebih termotivasi untuk selalu memilah sampah sesuai dengan jenisnya. Dan mengerti kemana sampah yang beraneka ragam jenis itu seharusnya dikelola.(*)

Credits

Bagikan