STTN BATAN Gelar Wisuda ‘Terakhir’ 66 Mahasiswa, Ini Penyebabnya

user
Ary B Prass 13 Oktober 2021, 14:00 WIB
untitled

SLEMAN, KRJOGJA.com - Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) BATAN menggelar wisuda Sarjana Terapan Teknik, Rabu (13/10/2021) siang di Hotel Sahid Babarsari. 66 wisudawan program studi Elektronika Instrumentasi, Elektro Mekanik dan Teknokimia Nuklir bakal menyandang gelar sebagai sarjana terakhir STTN BATAN.

STTN BATAN tinggal menunggu hari untuk berubah nama menjadi Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia. Edy Giri Rachman Putra, Plt Deputi Sumberdaya Manusia dan Iptek, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan   sejak 2016 lalu pihaknya sudah inisiasi perubahan organisasi STTN jadi Politeknik.

“Saat saya masih menjadi Ketua STTN, kelembagaan berada di bawah BATAN yang otomatis perlu mengubah organisasinya. Pada 2019 usulan diterima Kemenristek, dilakukan visitasi ke STTN dan butuh setahun persetujuan Kemendikbud. Akhir 2020 disetujui perubahan dan butuh setahun lagi untuk diresmikan, dalam waktu dekat ini, bulan ini,” ungkapnya saat sesi konferensi pers usai wisuda.

Sukarman, Plt Ketua STTN BATAN (Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia) menambahkan, saat ini diwisuda 66 sarjana terapan teknik dari tiga program studi yakni Elektronika Instrumentasi, Elektro Mekanik dan Teknokimia Nuklir. Mahasiswa dibekali dengan berbagai sertifikasi sesuai permintaan industri seperti SIB PPR yakni petugas proteksi radiasi industri tingkat 1, sertifikasi Operator Radiografi, Ultrasonic Testing dan American Standar Nuclear Testing.

“Saat ini ada perubahan kelembagaan menjadi Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia, sebentar lagi lahir menunggu ijin presiden. Perubahan statuta sedang berlangsung mungkin bulan ini selesai. Kami ikuti regulasi, kurikulum disesuaikan dengan nuklir teaching industry mulai akselerator, reaktor nuklir, pengolahan limbah, iradiator dan logam tanah jarang yang seluruhnya berhubungan dengan bidang nuklir,” imbuhnya.

Perubahan STTN menjadi Politeknik menurut Sukarman membawa berbagai kelebihan di antaranya bisa menerima lebih banyak mahasiswa yang nantinya bisa dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan SDM pernukliran Indonesia. Apalagi, saat ini perguruan tinggi baru bisa memenuhi 5 persen dari kebutuhan industri nuklir tanah air.

“Kita bisa menerima 1000 mahasiswa ketika jadi Poltek. Kita secara bertahap akan melakukannya, karena secara aturan bisa lebih banyak untuk menyiapkan SDM nuklir di Indonesia. Kebutuhan kita untuk menyuplai masih kurang, masih di bawah 5 persen, sangat sedikit. Kita perlahan siapkan untuk menyongsong 2040,” pungkas dia.

Sementara, BATAN yang juga bergabung di bawah BRIN kini berubah nama menjadi Organisasi Riset Tenaga Nuklir. Organisasi tersebut akan berfokus mengembangkan riset nuklir yang diharapkan membawa kemanfaatan bagi industri dan masyarakat. (Fxh)

Credits

Bagikan