Peluang dan Tantangan bagi Pengguna Cryptocurrency

user
danar 08 Oktober 2021, 22:10 WIB
untitled

DI ERA REVOLUSI DIGITAL, tidak dapat dimungkiri bahwa teknologi telah menjadi kebutuhan utama manusia. Dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi digunakan hampir pada seluruh bidang ilmu. Contohnya, di ranah ekonomi, khususnya dalam proses transaksi, muncul istilah transaksi digital atau “E-Commerce”. Secara sederhana, E-Commerce ialah aktivitas yang berkaitan dengan pembelian dan penjualan yang menggukanan perangkat komputer (mobile), serta jaringan internet sebagai medianya.

Kaitannya dengan itu, saat ini transaksi digital yang tengah naik daun adalah Bitcoin: salah satu uang dalam bentuk enkripsi digital, atau yang familiar disebut sebagai “Cryptocurrency”. Validasi data yang dipergunakan dalam menggunakan uang digital tersebut adalah “Teknologi Blokchain”.

Istilah “Bitcoin” sendiri diperkenalkan pertama kali oleh Satoshi Nakamoto lewat paper-nya yang berjudul “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System” (2008). Adapun identitas Nakamoto, belum terungkap secara pasti sampai detik ini.

Peluang dan Tantangan bagi Pengguna Cryptocurrency

Teknologi yang ia ciptakan diperuntukkan bagi Aset Kripto (Cryptocurrency). Artinya, koin-koin di dalamnya bersifat digital. Keseluruhan koin Bitcoin (BTC) berjumlah 21 juta keping untuk keperluan penambangan. Diprediksi bahwa Bitcoin tersebut akan habis pada tahun 2140 mendatang, karena Bitcoin (BTC) yang dapat ditambang berkurang menjadi separuhnya setiap 4 tahun sekali (Halving Day). Pada tanggal 11 Mei 2020, imbalan bagi miner berkurang dari 12.5 BTC menjadi 6.25 BTC perblok, sehingga di tahun 2024 imbalan menjadi 3.175 BTC perblok.

Saat ini, telah tertambang 18 juta koin, dan tersisa hanya 3 juta saja. Bitcoin bisa menjadi aset karena jumlahnya yang terbatas, hanya 21 juta koin. Catatannya, demand-nya terus meningkat dari hari ke hari, hingga harganya menjadi tinggi. Sebagai contoh, pada tahun 2010, sekeping Bitcoin dapat dipergunakan untuk membeli sekotak Pizza, namun sepuluh tahun kemudian, satu koin tersebut mengalami kenaikan nilai menjadi sekitar USD 50.000 (setara Rp 725.000.000).

Teknologi Blockchain menjadi sangat aman karena dibuat menggunakan ilmu Cryptography. Selain itu, Blockchain sendiri semacam “buku besar” yang menggunakan konsep desentralisasi, atau tiadanya pusat yang mengontrol validasi sebagaimana transaksi pada bank-bank konvensional. Mengapa demikian? Buku besar tersebut telah mencatat seluruh transaksi: antar pengguna saling mengetahui dan memverifikasi transaksi yang terjadi. Catatan tiap pengguna diketahui secara bersama-sama. Sederhananya, “buku besar” Blockchain ada di seluruh pengguna dan pemilik Bitcoin, di mana pun mereka berada. Dengan demikian, lantaran terpantau oleh semua pengguna, maka penipuan menjadi sangat sulit terjadi atau bisa dikatakan tidak mungkin. Dalam beberapa kasus, pemilik uang digital dapat kehilangan uang digitalnya karena pengguna yang lupa password dari akun dompetnya.

Teknologi ini memang dimaksudkan bagi keamanan: copy transaksi ada di mana-mana, terdata oleh semua pengguna. Mereka yang memverifikasi transaksi disebut sebagai “miner” (penambang), yang menambang uang digital yang masih tersisa. Cryptocurrency, sebagaimana uang dalam bentuk fisik (fiat money), juga terdiri dari berbagai jenis mata uang yang disebut Altcoin, seperti Ethereum (ETH), Ripple (XRP), Solana (SOL), Litecoin (LTC), Binance Coin (BNB), Tether (USDT), Monero (XMR), Cardano (ADA), dan lain-lain.

Cryptocurrency telah dimanfaatkan hampir di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia yang perkembangan dan pasarnya terus membesar—terbukti dengan kemunculan perusahaan perdagangan aset kripto yang terdaftar di Bappebti seperti INDODAX, TOKOCRYPTO, PINTU, LUNO, dan lain-lain. Artinya, investasi Cryptocurrency di Indonesia tentu telah legal.

Salah satu alasan makin tingginya pengguna Cryptocurrency tersebut ialah nilai koin digital yang terus naik (karena demand yang terus naik dan suplai terbatas), berkebalikan dengan nilai fiat money yang turun dari tahun ke tahun, dan sewaktu-waktu berpotensi mengalami inflasi. Inflasi terjadi karena pemerintah mencetak uang secara terus-menerus (regular)—misalnya, sebagaimana dilakukan Amerika sejak tahun 1971-1972, yang mencetak uang tanpa ada intrinsic value (emas sebagai jaminan).

Tipe-tipe pengguna yang bisa berinvestasi dalam Cryptocurrency dapat diklasifikasikan menjadi: pertama, pembeli dan penyimpan dalam waktu lama yang sewaktu-waktu dapat menjual koin miliknya ketika harga mengalami kenaikan; kedua, para trader yang melakukan jual-beli mata uang digital layaknya foreign exchange; dan ketiga, liquidity provider atau penyedia likuiditas ialah para penyuplai token ke sebuah liquidity pool, sekaligus yang juga bisa bertindak sebagai penyelenggara pasar (market maker).

Sejatinya, ada satu lagi tipe partisipan dalam Cryptocurrency, yakni para miner atau mereka yang membeli mesin/alat untuk ikut memverifikasi transaksi yang terjadi dengan sistem proof of work (POW). Penambangan bisa juga dilakukan dengan metode Proof of Stake (POS), yaitu yang menyatakan bahwa seseorang dapat menambang atau memvalidasi transaksi aset kripto sesuai dengan jumlah koin yang dipunyai dan kemudian di stake ke mesin verifikator. Imbalannya para miner baik dengan POS atau POW, akan memperoleh coin dari transaksi-transaksi yang mereka verifikasi.

Kelemahan dari POW adalah bahwa harga untuk memperoleh mesin/alat tersebut tentulah tidak murah serta biaya listrik dan internet tiap bulannya juga tidak murah, ditambah perlunya ruangan khusus karena alat itu harus hidup 24 jam dengan exhaust fan yang sangat besar untuk menjaga suhu ruangan menjadi konstan, sehingga suara bising akan sangat mengganggu. Kelemahan tersebut makin hari makin besar dampaknya karena mingkatnya jumlah miner yang kemudian berdampak pada makin ketatnya “perebutan” penambangan koin digital, sehingga mining membutuhkan alat, listrik, kipas dan internet yang makin mahal dari waktu ke waktu, untuk menambang sejumlah koin yang sama. Kelemahan tersebut ditutupi dengan metode POS. (Rusydi Umar, ST., M.T., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Ahmad Dahlan)

Credits

Bagikan