Belanda Menjadi Salah Satu Negara yang Menyediakan Akses Pendidikan Jenjang S2 Bagi Lulusan Diploma 4

user
danar 12 Agustus 2021, 01:10 WIB
untitled

JAKARTA, KRJOGJA.com - Belanda menjadi salah satu negara yang menyediakan akses pendidikan jenjang S2 bagi lulusan diploma 4 (Politeknik). Apalagi beberapa universitas ternama di negara kincir angin tersebut juga menyediakan program beasiswa.

Yesaya Galatia Maranatha adalah salah seorang diantaranya. Lulusan D4 Politeknik Negeri Malang (Polinema) tersebut akhirnya lolos seleksi dan berhak mendapatkan beasiswa S2 di University of Twente, Belanda. Tak tanggung-tanggung, Yesaya mendapatkan dua program beasiswa yakni beasiswa dari University of Twente yaitu potongan uang kuliah sebesar 50 persen dan beasiswa dari program Holland Scholarship.

“Banyak orang meragukan, apakah lulusan Politeknik dapat melanjutkan studi S2 ke luar negeri,” kata Yesaya pada acara Virtual Pre-departure Briefing 2021 yang diselenggrakan oleh Nuffic Neso Indonesia, dalam siaran pers yang diterima KRJOGJA.com, Rabu (10/8/2021). Kegiatan yang diikuti 300 pelajar Indonesia tersebut bertujuan memberikan bekal informasi seputar hidup dan belajar di Belanda yang ditujukan kepada mahasiswa Indonesia yang sudah siap berangkat untuk melanjutkan studi di Belanda.

Yesaya mengakui tidak mudah untuk bisa menembus program beasiswa di negeri Belanda. Tetapi dengan semangat, kerja keras, doa dan restu orang tua, Yesaya akhirnya berhasil meraih impiannya pada 2021. “Tahun 2020 lalu sempat mencoba tetapi gagal,” katanya.

Kepada 300 peserta lainnya, Yesaya berkisah awal mula berburu program beasiswa ke negara Belanda. Beberapa waktu setelah mendapatkan informasi dari presentasi Nuffic Neso, dan juga pameran Pendidikan EHEF, Yesaya akhirnya mendaftar ke University of Twente dan Maastricht University, dengan pertimbangan metode pengajaran, jurusan yang ditawarkan, serta kualitas pendidikan. Di bulan Desember tahun 2019, Yesaya mendapatkan surat penerimaan (Letter of Acceptance) dari University of Twente.

Peserta Virtual Pre-departure Briefing 2021 yang diselenggrakan oleh Nuffic Neso Indonesia, Sabtu (7/8/2021)

Yesaya pun mencoba mendaftar beberapa program beasiswa baik yang ditawarkan oleh kampus maupun beasiswa StuNed. Meski pada akhirnya tahun tersebut Yesaya gagal.

Meski demikian, Yesaya tidak putus asa dan makin bersemangat, yakin bahwa semua anak di Indonesia berkesempatan untuk kuliah di luar negeri khususnya Belanda. Yesaya pun memutuskan untuk mencari pekerjaan setelah menerima kenyataan belum bisa berangkat tahun 2020. Dan diawal tahun 2021 ini Yesaya kembali mencoba beasiswa-beasiswa yang ditawarkan oleh universitas, pemerintah serta StuNed.

Cerita mengenai perjuangan menembus program beasiswa studi ke Belanda juga diungkapkan oleh Pranandya Wijayanti, lulusan teknik lingkungan ITB dan sudah memiliki pengalaman kerja selama 7 tahun. Pranandya lulus dari ITB tahun 2014 dan mulai aktif mencari beasiswa sejak tahun 2017.

Karena selalu mendapat penolakan dari program-program beasiswa yang sering terdengar seperti LPDP, STUNED, dan lainnya, akhirnya Pranandya mencoba peruntungan dengan mendaftar semua beasiswa yang buka. Di hari terakhir bulan April, Pranandya membaca info dari akun Instagram Nuffic Neso tentang kesempatan beasiswa dari Orange Tulip Scholarship, Holland Scholarship dan University of Twente Scholarship (UTS).

Ia mengaku sempat panik karena deadline tinggal 1 hari. Beruntung persyaratannya tidak rumit, hanya butuh motivation letter dan mengisi form berapa kebutuhan biaya dan apakah mau beasiswa full atau half.

Pranandya yang sudah terbiasa membuat motivation letter pun tidak mengalami kesulitan. “Jadi tinggal poles-poles sedikit lalu diupload untuk ketiga scholarship tersebut,” ujarnya.

Pada awal Juni, Pranandya mendapatkan pengumuman bahwa ia mendapatkan UTS dan bahkan mendapat beasiswa penuh (bebas biaya kuliah, tunjangan biaya hidup, visa dan asuransi). Pranandya tinggal membeli tiket saja.

“Sudah well-known, harus sering-sering cek website kampus juga scholarship apa saja yang ditawarkan,” jelasnya.

Dalam siaran persnya, Koordinator Promosi Pendidikan Nufffic Neso, Inty Dienasari, mengatakan bahwa kegigihan adalah salah satu faktor yang dapat mewujudkan impian dan cita-cita seseorang. Tidak mudah putus asa dan yakin bahwa semua hal yang kita lakukan pasti ada balasannya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari pendaftaran acara pre departure briefing, 60% pelajar yang akan berangkat ke Belanda mendapatkan beasiswa, 16 peserta merupakan penerima beasiswa StuNed, 10 peserta penerima beasiswa kerjasama StuNed-LPDP, 37 peserta penerima Orange Tulip Scholarship (OTS), 30 peserta penerima Holland Scholarship, 33 peserta penerima beasiswa dari universitas Belanda, 8 peserta penerima beasiswa Erasmus+, 48 penerima beasiwa LPDP, 20 penerima beasiswa Dikti, 28 peserta penerima beasiswa lainnya. Dan 137 peserta berangkat ke Belanda dengan menggunakan pembiayaan secara mandiri.

Sebagian besar (177 peserta) akan melanjutkan studi master (strata 2) di Belanda, 23 peserta menempuh short course programme, 52 peserta melanjutkan studi bachelor (sarjana), dan 7 peserta melakukan penelitian (PhD) di Belanda. Program studi yang paling popular diantara para peserta tersebut adalah economics, commerce, management dan accounting.

Beberapa materi yang disampaikan pada acara predeparture briefing ini dapat dilihat pada channel youtube studi di Belanda.(Ati)

Credits

Bagikan