PMI Ingatkan Pencegahan Kluster Baru Corona Covid-19

user
danar 14 Juli 2020, 00:30 WIB
untitled

JAKARTA, KRJOGJA.com - Sebagian sekolah di zona hijau Covid-19 sudah efektif tatap muka. Meski di zona hijau, risiko penularan Covid-19 pun sangat dikhawatirkan. Alih-alih bisa menjadi klaster baru, seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya.

Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia (PMI) Sudirman Said mengatakan, meskipun belajar tatap muka di sekolah sudah berlaku di zona hijau Covid-19, tetap harus dipikirkan ulang bagaimana risikonya. Jika penambahan kasus positif Covid-19 masih ada, peluang tingginya risiko penularan pun tak dapat dielak.

"Sepanjang masih ada kemunculan kasus di manapun itu artinya risiko terbuka bagi penularan virus," kata Sudirman dalam keterangannya, Senin (13/7/2020).

Belum lagi dengan adanya peringatan WHO bahwa ditemukan penyebaran Covid-19 melalui udara (airborne). Hal ini juga banyak ditemukan di lingkungan pendidikan.

Menurut Sudirman, bukti bahwa risiko penyebaran virus makin tinggi. Sayangnya kewaspadaan masyarakat tampak makin menurun.

"Kita perlu bangkitkan kembali solidaritas warga untuk saling mengingatkan, saling menjaga. Ada rumusan: “outbreak anywhere is outbreak everywhere”. Artinya kalau ada penyebaran kasus di Bandung, Surabaya, Semarang, dan lain-lain. Itu artinya selalu ada risiko penyebaran di tempat-tempat lain," bebernya.

Di Jakarta contohnya, lanjut Sudirman, sudah pernah menurun dan stabil, tetapi sekarang mulai naik lagi angkanya. Bisa karena penyebaran lokal DKI Jakarta, tetapi juga bisa disebabkan interaksi warga DKI dengan warga wilayah lain yang masih tinggi angka penularannya.

PMI punya langkah antisipasi untuk meminimalisir risiko klaster baru Covid-19 di sektor pendidikan. Sejak Februari 2020, PMI aktif melakukan promosi kesehatan tentang kampanye protokol kesehatan. Mulai April relawan PMI bersama sama dengan elemen masyarakat, dan TNI/POLRI aktif melakukan penyemprotan disinfektasi ke tempat tempat umum, termasuk sekolah, masrasah dan pesantren.

"Dengan usaha yang demikian, kami tetap berpandangan bahwa cara terbaik mengurangi risiko adalah menghindari kerumunan," terangnya.(*)

Kredit

Bagikan