RI Perlu Meningkatkan Riset Bidang Kanker

user
tomi 07 November 2016, 23:33 WIB
untitled

SEMARANG (KRjogja.com)- Riset dan Inovasi di perguruan tinggi (PT) di Indonesia khususnya menyangkut persoalan penyakit kanker dan pencegahannya, tergolong rendah dibanding kebanyakan negara lain.

Salah satu indikatornya, jumlah publikasi ilmiah hasil riset tentang onkologi (kanker) Indonesia di tahun 2015 sebanyak 214, jauh dibanding Malaysia 1.025, Singapura 2.322, dan Jepang 56.355. Padahal jumlah penderita kanker paru (laki-laki) dan kanker payudara (perempuan) Indonesia selalu meningkat.

 

Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemeristekdikti Prof Intan Ahmad PhD saat tampil sebagai keynote speaker Konferensi Internasional tentang Ilmu Farmasi dan Simposium Tahunan ke-7 Masyarakat Kemoterapi Kanker Indonesia (ISCC) yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang di Semarang Senin (07/11/2016) menyatakan perlunya langkah strategis meningkatkan riset dan inovasi bidang pencegahan dan pemberantasan penyakit kanker serta meningkatkan publikasi ilmiah di bidang ini.


“Masih sedikitnya jumlah publikasi juga tidak terlepas dari masih sedikitnya jumlah peneliti di Indonesia  yang tahun 2014 Unesco mencatat data 544 peneliti per 1 juta penduduk Indonesia. Bandingkan dengan Turki 1.730, Cina 1.285, Jepang 7.021, Malaysia 2.384 dan Singapura 7.199," paparnya.

Dia menjelaskan salah satu faktor di antaranya karena dana penelitian Indonesia masih rendah yaitu 0,02 persen sedang Negara lain seperti Korsel, Jepang, Finlandia, Ukraina, Swiss mengalokasi 3 persen anggaran untuk penelitian, Singapura 2 persen, Malaysia 1,1, Tahiland 0,39 persen. Namun masih minimnya dana tidak boleh jadi penghambat peningkatan kualitas SDM Indonesia lewat riset dan inovasi serta makin kompetitifnya tenaga kerja Indonesia di kancah internasional (Sgi)

Kredit

Bagikan