Test Covid Tak Lagi Banyak Dipakai, Bagaimana Kabar GeNose Temuan UGM?

user
danar 23 Agustus 2022, 07:10 WIB
untitled

SLEMAN, KRJOGJA.com - Tim GeNose C19 UGM telah mempublikasikan sebagian data riset GeNose C19 sebagai bagian pertanggungjawaban ilmiah riset hilirisasi implementasi GeNose C19 sebagai alat skrining COVID-19. Dua jurnal internasional bereputasi dan prestisius pada tahun 2022 yakni Artificial intelligence in Medicine (AIIM) dan Nature portfolio journal (npj) Digital Medicine.

Dua publikasi tersebut masih merupakan tahap awal dari keseluruhan data yang saat ini dalam proses penyelesaian penulisan manuskrip, yakni terkait dengan data hasil uji klinis multisenter dan uji validasi eksternal yang melibatkan multi institusi. Seluruh manuskrip lanjutan tersebut nantinya akan dipublikasi di jurnal-jurnal internasional bereputasi berikutnya.

Prof Kuwat Triyana, Inventor GeNose mengatakan diterimanya publikasi hasil riset GeNose menunjukkan bahwa konsep sensing infeksi dengan analisis volatile organic compound (VOC) nafas berbasis big data dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dapat diterima dalam aplikasi klinisnya. Hal ini dibahas secara lengkap di manuskrip kedua.

“Dengan diterimanya konsep ini, tentunya di masa yang akan datang, pemanfaatan AI dan teknologi informasi menjadi sebuah revolusi dalam memanajemen penyakit baik itu infeksi maupun non-infeksi, di mana data-data yang dikumpulkan dari pasien dengan metode tertentu secara terstandarisasi dapat menjadi sumber biomarker baru yang valid, reproducible dan terjangkau. Hanya memang diperlukan pengujian terus menerus dan update dari database serta algoritma AI untuk terus dapat meningkatkan performa diagnostiknya, yang mana proses learning berbasis hybrid dibahas secara lengkap di manuskrip pertama. Sekali lagi, proses pengujian hasil learning secara uji diagnostik multisenter sekaligus hasil validasi eksternal akan diterbitkan di jurnal internasional bereputasi berikutnya,” ungkap Kuwat, Senin (22/8/2022).

Kuwat mengamini, para ahli, akademisi dan mayarakat ilmiah menanyakan, mengapa publikasi GeNose tidak keluar lebih dahulu, baru kemudian dilakukan hilirisasi agar tidak terjadi penolakan dan kontroversi. Ia pun mengatakan secara umum, proses hilirisasi suatu produk kesehatan dalam kondisi normal akan mengikuti alur normal di mana setelah adanya uji klinis, baru kemudian publikasi, lalu pendaftaran ke Dirjen Farmalkes untuk mendapatkan izin edar.

“Namun, dalam kondisi pandemi COVID-19, di mana inovasi secara cepat diperlukan dan sebagaimana beberapa produk kesehatan lainnya yang muncul selama masa pandemi, seperti vaksin, obat, teknologi VTM dan lain-lain, setelah proses uji klinis, hasil uji klinis dapat diajukan langsung ke pendaftaran izin edar, sembari menunggu proses publikasi. Uji klinis pun harus dilakukan dengan evaluasi awal, izin dan pemantauan ketat oleh regulator serta izin edar pun masih bersifat emergency use authorization yang kemudian perlu diperpanjang lagi. Proses review oleh panel ahli dari berbagai universitas, kalangan industri saat pengajuan izin edar ini sebenarnya tidak berbeda dengan proses review pada saat publikasi, bahkan sama ketatnya,” sambung Kuwat.

dr Dian Kesumapramudya Nurputra, Inventor GeNose menambahkan saat ini GeNose C19 sedang dalam proses perpanjangan ijin edar sekaligus berinvasi ke Malaysia, Singapura, Jepang dan Kamboja. Di sisi lain, update berkala pada piranti lunak GeNose C19 ke versi terbaru 1.4.2 yang telah memiliki data base varian omicron, B.A. 3 dan B.A 5 juga terus dilakukan.

“Bagaimana GeNose mendatang, di bidang medis, beberapa mesin GeNose C19 yang merupakan mesin cadangan saat ini menjalani uji profiling yang segera dilanjutkan untuk uji diagnostik secara non-invasif untuk deteksi kanker serviks melalui sampel urin pasien, deteksi tuberculosis (TB) melalui sampel nafas pasien, deteksi sepsis pada neonates melalui sampel feses pasien dan deteksi jenis bakteri pada ulkus diabetikum,” sambungnya. (Fxh)

Credits

Bagikan