Alumnus SMP Negeri 5 Yogyakarta, Tamara Feri Kusuma Putri Berbagi Pengalaman Bersekolah di Inggris

user
danar 29 Juli 2022, 16:50 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - SMP Negeri 5 Yogyakarta merupakan salah satu sekolah yang dicita-citakan oleh siswa Sekolah Dasar. Mengapa? Karena banyak siswa dari luar negeri yang sering mengunjungi SMPN 5 Yogya. Selain itu SMPN 5 Yogya juga sering diundang untuk mengikuti festival di luar negeri, sering diundang tampil membawakan budaya Indonesia pada acara resmi maupun acara santai.

Kegiatan tersebut telah menjadikan siswa SMPN 5 Yogya yang ikut dalam acara tersebut mendapatkan pengalaman tentang bagaimana belajar di luar negeri, bagaimana kultur di negara yang dikunjungi, bagaimana kehidupan sehari-hari host family di mana para siswa menginap.

Jadi ketika para siswa mengikuti acara di luar negeri ataupun menerima kunjungan dari luar negeri, mereka akan belajar banyak hal termasuk penanaman nilai-nilai sikap, baik relijius maupun sosial. Para siswa juga menjadi lebih terampil, terutama berkomunikasi menggunakan bahasa asing. Hal ini sesuai dengan tujuan pemerintah di dalam membentuk Pelajar Pancasila.

Salah satu siswa SMPN 5 Yogyakarta yang berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri adalah Tamara Feri Kusuma Putri. Tamara sempat berbagi kepada adik-adik kelasnya bagaimana dia dapat memperoleh beasiswa tersebut melalui zoom meeting. Acara dibuka oleh Kepala SMPN 5 Yogya, Siti Arina Budiastuti MPd BI yang diawali dengan doa pembuka dan salam serta kata motivasi. Sedangkan moderator pada acara ini adalah siswa kelas IX, Adyuta Candrawilasita, siswa berprestasi yang memiliki berbagai penghargaan.

Berbagi Pengalaman dari Tamara

Pengalaman adalah pelajaran paling berharga, mereka bilang. Saat itu usiaku 16 tahun saat memutuskan untuk bersekolah di Inggris. Ada banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan sebelum akhirnya memilih untuk melanjutkan pendidikanku di Cardiff Sixth Form College, di program A levels.

Tahun 2019, aku adalah seorang siswa dari SMPN 5 Yogya dan selalu bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan di SMA Taruna Nusantara. Stigma dari orang sekitar bahwa seleksi untuk diterima di SMA Taruna Nusantara sangatlah berat akhirnya mendorongku untuk mencari sekolah cadangan.

Setelah beberapa pertimbangan, aku dan keluarga sepakat untuk mendaftarkan diri ke salah satu international school di Malaysia untuk program IGCSE. Saat itu aku pikir test akan lebih mudah, tetapi ternyata itu salah dan terbukti ketika sekolah itu memintaku untuk membuat motivation letter, membuat video perkenalan diri, tes psikologis, dan wawancara. Saat itu aku merasa bahwa kesempatanku untuk bersekolah di malaysia adalah 1:100, tetapi Tuhan punya rencana lain dan memberiku kesempatan untuk bersekolah di Malaysia dengan beasiswa.

Disisi lain, pengumuman penerimaan siswa di SMA Taruna Nusantara diumumkan dan histeris-lah aku menemukan namaku di salah satu lembar pengumuman. Tentunya kedua hal itu terjadi tidak luput dari bimbingan bapak ibu guru selama aku bersekolah di SMPN 5 Yogya.

Namun, dilema dimulai dan aku akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran dari kedua sekolah itu selagi aku mampu. Berbulan bulan aku mengikuti online class di kedua sekolah itu, aku merasa bahwa pada akhirnya aku harus memutuskan di mana akhirnya aku ingin melanjutkan pendidikanku. Saat itu dunia sedang dilanda pandemi covid-19, dan hal itu menyulitkan aku untuk bisa pergi ke Malaysia karena adanya lockdown. Dengan berat hati dan banyak pertimbangan, aku terpaksa berpamitan dari bersekolah di Malaysia dan melanjutkan kelas 10 ku di SMA Taruna Nusantara.

Namun pengalamanku bersekolah di international school, menumbuhkan harapan dan niatku untuk mencari beasiswa di luar negeri. Di situlah turning point, dalam kehidupan bersekolah, dimana aku merasa bahwa international curriculum dan method belajar di international school adalah yang terbaik bagiku untuk bisa mengakomodasi ambisi dan menggapai cita citaku.

Satu semester berlalu, aku memutuskan untuk apply ke 2 sekolah di United Kingdom tanpa berekspektasi lebih. Tes yang harus aku lalui sebelum memasuki kedua sekolah itu hampir sama, mulai dari submit nilai rapor, tes psikologi, interview, dan tes akademik. Tuhan sangatlah baik dan punya rencana untukku, hilang kontrol diriku bahagia mengetahui aku diterima di kedua sekolah yang aku tuju dengan beasiswa.

Setelah puluhan kali pertimbangan serta perdebatan, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Cardiff Sixth Form College, salah satu sekolah yang terkenal bagus dengan program A levels-nya. Bulan pertama aku di UK cukuplah berat, apalagi aku adalah satu-satunya siswa Indonesia di sekolah kala itu.

Ekspektasi yang tinggi karena title 'siswa beasiswa' juga memberiku tantangan dan pressure yang cukup berat. Stigma yang sering aku dengar dari orang-orang disekitarku bahwa materi sekolah di luar negeri jauh lebih mudah daripada di Indonesia sekejap terpatahkan ketika ulangan pertama datang.

Hasil yang aku dapatkan jauh dari ekspektasi dan disitulah titik terendahku. Namun, dunia tidak berhenti berputar. Dikelilingi dengan teman-teman yang ambisius dari berbagai belahan dunia menyadarkanku bahwa aku bukanlah satu-satunya yang berjuang untuk menggapai cita-cita, puluhan orang disini semuanya juga berusaha keras dan mengorbankan banyak hal untuk akhirnya bisa belajar di Cardiff Sixth Form College.

Aku hampir berputus asa dan menanyakan diriku setiap harinya, 'apakah sekolah disini adalah keputusan yang tepat?', namun jawaban dari pertanyaan itu muncul dengan sendirinya ketika salah satu guruku berkata, "Tamara, I know that you are trying and you will be fine". Kata-kata yang keluar dari mulut guruku itu memberikanku semangat untuk bangkit lagi, karena kalau guruku saja belum menyerah dan masih percaya pada potensiku, maka aku harus bisa menjaga kepercayaan itu.

Setiap hari aku belajar, kadang pula meninggalkan tidur. Hari dimana hasil ulangan dibagikan adalah hari yang paling ingin aku hindari. Perasaan takut dan membayangkan teman teman yang mendapat nilai sempurna menanyakan bagaimana nilaiku adalah mimpi buruk tersendiri bagiku.

Namun, kerja kerasku kali ini ternyata membuahkan hasil ketika aku melihat bahwa hasil ujianku ternyata di atas ekspektasi. Syukurku tak terhingga ketika akhirnya aku bisa mengabari bunda di rumah bahwa aku mendapat nilai A di ujianku. Namun perjuanganku tidak berhenti disitu, karena masih banyak ujian menanti di bulan-bulan berikutnya.

Saat ini, aku sudah menyelesaikan kelas 12 di program A levels yang aku jalani. Perjuanganku belum selesai tetapi saat ini aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bisa bersekolah di United Kingdom dan dipertemukan dengan orang-orang yang hebat dengan berbagai macam latar belakang, dan datang dari Nigeria hingga Hongkong.

Salah satu hal yang menguatkanku selama sembilan bulan aku di Cardiff Sixth Form College adalah support dari keluarga, guru, dan teman-temanku.Hari-hariku bersekolah di negeri orang tidak selalu menyenangkan, ada banyak hal yang harus dikorbankan serta masalah yang datang dan harus aku selesaikan sendiri.

Jauh dan tinggal beribu ribu kilometre dari tempat asalku bukan berarti aku meninggalkan rumah. Karena definisi rumah bagiku ternyata lebih dari tempat berteduh, tapi tempat dimana aku bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dengan support dari orang orang disekitarku. Seterusnya aku harap aku masih diizinkan untuk bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di universitas yang aku inginkan, tapi hal itu hanya bisa tercapai dengan bantuan dan doa dari orang orang disekitarku, serta izin dari Tuhan.

Special thanks i address to both of my parents, my family, teachers, and friends that have been supporting me and believe in me from the very beginning of my journey. (*)

Credits

Bagikan