Era Digital, Kesantunan Berbahasa Terkikis

user
danar 04 September 2022, 20:10 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Ali Mustadi dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) oleh Rektor UNY Prof Dr Sumaryanto MKes di Performance Hall FBS-UNY, Karangmalang, Sabtu (3/9/2022).

Dalam pengukuhan Prof Dr Ali Mustadi SPd MPd menyampaikan pidato berjudul 'Kesantunan Berbahasa Anak di Era Digital'. Menurut Ali Mustadi, bahasa merupakan sarana untuk menyampaikan informasi kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan. "Salah satu dampak negatif kemajuan teknologi informasi yaitu terjadinya kekagetan bahasa, pergeseran kesantunan dalam berbahasa," ujarnya.

Berdasarkan hasil riset Hootsuite dirilis Januari 2020, menemukan data, terjadi peningkatan jumlah pengguna media sosial, termasuk oleh anak-anak di Indonesia yang tidak diimbangi dengan kesadaran akan kesantunan berbahasa dalam memberikan penyataan, kritikan atau komentar. Berdasarkan hasil penelitian dari We Are Social berjudul “Essential Insight Into Internet, Social Media, Mobile and E-commerce Use Around the Word” (Social, 2020) ditemukan, masyarakat Indonesia menghabiskan waktu untuk mengakses internet melalui berbagai gadget yang bervariasi dengan rata-rata 8 jam 15 menit setiap harinya untuk berinteraksi dengan dunia maya. Adapun platform media sosial yang paling banyak diakses yaitu Youtube (93,8%), Whatsapp (87,7%), Instagram (86,6%, dan Facebook (85,5%). Hal ini mengakibatkan masyarakat Indonesia diberi label paling 'Talk-active' di dunia maya. Jumlah pengguna yang membengkak berbanding terbalik dengan kesantunan bertutur kata di media sosial.

Kesantunan berbahasa adalah ciri-ciri penggunaan bahasa yang paling jelas untuk mengungkapkan sifat sosialitas manusia yang diungkapkan dalam bentuk tuturan. Dewasa ini, bahasa yang digunakan oleh sebagian anak tidak lagi mencerminkan sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai etika dan estetika. "Fakta yang diamati di media sosial dan sekolah, banyak anak yang sudah mulai terkikis nilai kesantunannya, mereka dengan bebas berbahasa tanpa menyadari dan mempertimbangkan kepada siapa mereka berbahasa, sehingga bahasa yang mereka keluarkan cenderung tidak memiliki prinsip kesopanan (politeness principle)," katanya.

Dari pengamatan Ali Mustadi, banyak kasus yang terjadi dari akibat anak yang terbiasa dalam berkata kasar. Selain itu, peristiwa bullying yang dilakukan antar sesama anak di sekolah mengindikasikan bahwa identitas anak yang menjunjung tinggi nilai kesopanan mulai hilang. Tayangan-tayangan kekerasan dan sadis di telivisi atau media sosial dengan menggunakan bahasa 'saru' dan vulgar semakin merajalela, tontonan-tontonan seksual liberalis semakin membudaya.

Kondisi kesantunan berbahasa anak semakin diperburuk oleh pengaruh negatif dari sosial media. Siswa yang akrab dengan gadget dan teknologi, sedikit atau banyak mendapat pengaruh yang buruk dalam hal berbahasa seperti dari platform TikTok, Youtube, game online, Facebook, dan berbagai platform aplikasi lainnya.

Ditegaskan Ali Mustadi, teknologi ini memungkinkan anak untuk terlibat secara aktif dalam mengembangakan kemampuan linguistiknya. Sumber daya digital yang kaya ini perlu digali oleh lingkungan pendidikan untuk mendukung perkembangan bahasa dan kesantunan berbahasa anak.

Dalam implementasi kurikulum merdeka, kesantunan berbahasa anak di era digital menjadi kompetensi esensial dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia yang mengedepankan pembentukan karakter siswa.

Pada era kemajuan teknologi globalisasi saat ini, peran pendidikan nilai dan karakter sangat dibutuhkan demi memberikan keseimbangan antara perkembangan teknologi dan perkembangan manusianya. Anak tidak bisa menghindari teknologi dan sosial media, maka anak di semua satuan pendidikan haruslah bijak dalam menggunakan teknologi dan media sosial. (Jay)

Credits

Bagikan