Penerapan Kurikulum Merdeka, Bagaimana Pandangan Guru?

user
Primaswolo Sudjono 28 November 2022, 11:22 WIB
untitled

Krjogja.com - GAUNG Kurikulum Merdeka terus digemakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang dipimpin Nadiem Makarim. Semangat untuk mewujudkan Merdeka Belajar pun dirasakan di sejumlah sekolah dan para guru. Lantas bagaimana pendapat guru terkait penerapan kurikulum Merdeka tersebut.

Salah satu guru yang kini dipercaya menjadi Kepala SMPN 12 Yogyakarta, Abdurrahman mengakui bahwa ada harapan besar terhadap telah diterapkannya Kurikulum Merdeka, yakni terwujudnya anak didik yang berakhlak mulia, jujur, cerdas, unggul, inovatif, kreatif, berkarakter Indonesia, berdaya saing tinggi, dan memiliki spirit nasionalisme kebangsaan yang bagus serta mampu beradaptasi dengan kehidupan global.

Guna mewujudkan harapan tersebut diperlukan peran dari kepala sekolah. Sebagai pemimpin pembelajaran untuk mampu menggerakkan semua komponen yang ada di sekolah sebagai agen perubahan yang menjadi sentral adalah memberikan pelayanan prima kepada peserta didik, sehingga mereka dapat berkembang secara optimal.

"Disamping itu Kurikulum Merdeka salah satu program yang sangat yang berbeda dengan Kurikulum sebelumnya yaitu Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), sehingga siswa mampu merancang suatu proyek/riset tentang pemecahan atau solusi dari persoalan dari yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari (bernalar kritis)," ujar Abdurrahman.

Baca Juga

Nadiem Makarim Minta Guru Ciptakan Belajar Menyenangkan, Ini Alasannya

Oleh karena itu menurut Abdurrahman, terdapat sejumlah aspek dalam penerapan Kurikulum Merdeka terkait pembelajaran. Pertama, Metode: IQRA (Identification/Idetifikasi, Question/bertanya, Researching/mencari tahu, dan Applying/menerapkan. Kedua, aspek pendekatan: STSE (Science Technology Society and Environment) atau SATEMALING (SAin, TEknologi, MAsyarakat, dan lingkungan). Ketiga aspek model : IBL (Inquery Base Learning), PBL (Problem Based Learning) dan atau PjBL (Project Based Learning). Keempat, aspek penyampaian : ‘pemain ras kidal’ merupakan akronim dari PEmbelajaran Menyenangkan, Aktif, INovatif, Ramah, Sosial, Kreatif, Imajinatif, Dan rasionAL. Sedangkan kelima, aspek evaluasi: High Order Thinking Skills (HOTS).

Sedangkan menurut guru SMK Negeri 3 Yogyakarta, Nurlaila Mahmudah, dalam penerapan Kurikulum Merdeka menuntut kesiapan guru untuk menyiapkan siswa dapat berdialog dengan realita kehidupan agar mereka nantinya dapat bersaing baik secara kompetitif maupun komparatif dengan orang lain dari berbagai negara (survive dalam kehidupan gelobal). "Apakah ini utopia? Waktu yang akan membuktikan dan zaman yang akan mengujinya," ujar Nurlaila.

Dalam pandangan Nurlaila, guru menjadi garda terdepan menuju bangsa yang maju, berkualitas dan memerdekakan dengan cara terus berinovasi dan bertransformasi mewujudkan merdeka belajar di seluruh nusantara.

Seiring dengan terjadinya dinamika di dunia pendidikan, Nurlaila melihat bahwa posisi guru harus dapat memenuhi sejumlah harapan.

Pertama, harus dapat menjadi contoh dan teladan bagi murid. Kedua, mampu membentuk nilai karakter kepribadian yg baik serta nilai kebangsaan dalam menghadapi globalisasi bagi siswa.

Ketiga, harus berwawasan utk menguasai teknologi, mengasah dan mengubdate perkembangan ilmu utk mengikuti perkembangan zaman. Dan keempat, aspek ikhlas dalam memberikan pelayanan (Ati)

Kredit

Bagikan