Tingkatkan SDM Siswa SMK Ditjen Vokasi MoU dengan Dunia Industri

Editor: Ary B Prass

MAGELANG, KRJOGJA.com – Direktur Jendral Pendidikan Vokasi Kementrian Pendidikan Kebudayaan dan Riset Teknologi (Kemendikbud dan Ristek), menandatangani naskah kerjasama (MoU) dan rencana kerja dengan Mitra Dunia Industri dalam pengembangan pendidikan vokasi. Penandatangan dilakukan di Hotel Puri Asri Kota Magelang, Jumat (20/5/2022).
“Yang kami apresiasi hari ini, MoU saat ini tidak sekedar penandatangan kerjasama saja, namun bagian-bagiannya sudah diujicobakan terlebih dahulu. Kami juga mengapresiasi, hari ini tidak sekedar MoU kerjasama saja tapi juga MoU tentang rencana kerja dengan mitra dunia usaha dalam pengembangan pendidikan vokasi. Jadi lebih konkrit dan jelas targetnya,” kata Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud dan Ristek, Wikan Sakarinto dalam sambutannya.
Dalam kesempatan itu, MoU kerjasama dilakukan diantaranya dengan PT Tira Austenite Tbk, PT Pegadaian, PT Komatsu, PT ChildFind, PT RedDoorz dan lainnya. Sedang untuk MoU rencana kerja, dilakukan dengan PT LX International, PT tdi, PT Kawan Lama, PT AGI dan PT Tera Data. “Penandatanganan Naskah Kerjasama dan Rencana Kerja ini dalam rangka pengembangan pendidikan vokasi,” ujarnya.
Penandatangan MoU ini, lanjut Widar, merupakan bagian dari paradigma baru dalam pengembangan kurikulum merdeka di pendidikan vokasi. Dalam kurikulum baru ini, ada pengembangan-pengembangan baru dan semakin konkrit. Dimana diharapkan, siswa SMK kedepan lebih kreatif, inovatif, pantang menyerah, adaptif dengan dunia industri, mandiri dan bisa menjadi interprener-interprener baru.
“Dalam kurikulum baru (merdeka)  ini, pembelajaran hanya sekitar 30 – 40 persen. Sisanya sekitar 70 – 60 praktek. Hanya praktek yang dilakukan, tidak hanya dua – tiga bulan, tapi selama satu semester. Sedang praktek yang dilakukan tidak hanya mengerjakan tugas guru tapi projek. Kalau bisa, siswa juga ikut mencari projek itu. Jadi mereka bisa belajar membuat MoU dengan pemilik projek. Kemudian, bisa belajar bagaimana sulitnya mencari projek, dimarahi pelanggan, belajar akunting, softskill, disiplin waktu dan sebagainya,” jelasnya.
Disampaikan, jika saat ini sudah ada 5554 dari sekitar 14 ribu SMK di Indonesia yang menerapkan Kurikulum Merdeka. Namun sebenarnya, tahun ajaran kemarin (Tahun 2020/2021) sudah ada sekitar 900 SMK yang menerapkan kurikulum baru tersebut. Sedang untuk tahun ajaran 2021/2022 ini, ada sekitar 4000 SMK. “Total sampai saat ini, sudah ada 5554 SMK yang menerapkan kurikulum merdeka. Meski baru 5554 sekolah, namun jumlah siswanya sudah lebih dari 60-70 persen dari seluruh siswa SMK di Indonesia. Hal ini karena 5554 SMK itu, merupakan SMK-SMK besar tersebar dari sumatera dan jawa. Terutama di Jawa Tengah, sebagai sentralnya,” ungkapnya.

BERITA REKOMENDASI