Tim PKM UMY Beri Penyuluhan Pengelolaan Tanah Wakaf di Kasihan

BANTUL, KRJOGJA.com – Tim Program Kemitraan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PKM UMY) memberikan penyuluhan untuk meningkatkan kompetensi nadzir dalam pengelolaan tanah wakaf di Kecamatan Kasihan, Bantul. Acara yang berlangsung 26 Juli 2020 di Ruang Fakultas Hukum UMY ini diikuti 17 orang dari 4 desa.

“Tujuan dari program ini adalah meningkatkan wawasan dan pengetahuan nadzir akan tugas dan fungsinya dalam mengelola amanah aset wakaf dari wakif sesuai dengan ketentuan fikih maupun peraturan perundang-undangan wakaf,” kata Ketua PKM Nasrullah SH SAg MCL. Anggota tim PKM UMY ini terdiri Dr Muhammad Khaeruddin Hamsin (Anggota) dibantu oleh Waridatun Nida SH.

Melihat pentingnya wawasan pengelolaan tanah wakaf inilah, PKM UMY menyelenggarakan penyuluhan dan workshop dengan tema “Optimalisasi Peranan Nadzir dalam Meningkatkan Fungsi Wakaf di Kecamatan Kasihan”.

“Dalam perspektif fikih, pengelolaan wakaf berorientasi pada kemanfaatan harta benda wakaf, sehingga bila suatu aset sudah tidak produktif atau terlantar dapat ditukar atau dipindahkan ke tempat lain yang lebih produktif dengan tetap mengikuti prosedur Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Perwakafan,” kata narasumber Dr M Khaeruddin Hamsin selaku anggota Komisi Fatwa MUI DIY dan Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Materi tentang prosedur perwakafan, optimalisasi harta benda wakaf serta optimalisasi tugas dan fungsi nadzir dijelaskan secara detail oleh Ketua Badan Wakaf Indonesia Bantul, Rohwan SAg MSI yang juga menjabat sebagai Kepala KUA/PPAIW Kecamatan Kasihan. Sedangkan pembicara ketiga, Ustadz Muhammad Jazir ASP berbagi pengalaman dengan peserta tentang kiat sukses mengelola Masjid Jogokaryan dari awal hingga menjadi model pengelolaan aset wakaf yang tidak hanya produktif tapi juga progresif.

Menurut Ustadz Jazir, Masjid Jogokaryan mengalami 3 fase pengembangan, bermula dari jamaah bersubsidi dikembangkan menjadi jamaah mandiri, dan saat ini telah berubah menjadi masjid mandiri dengan berbagai unit usaha yang tidak hanya mampu mencukupi biaya operasional masjid tetapi juga mampu mensejahterakan jamaahnya.

Kegiatan penyuluhan dan workshop diselenggarakan secara tatap muka, namun, tetap menerapkan protokol pencegahan covid-19, menggunakan masker, hand sanitizer  dan penataan tempat duduk berjarak.

BERITA REKOMENDASI