2016 Jadi Tahun Mematikan Bagi Para Migran

Editor: Ivan Aditya

ROMA (KRjogja.com) – Tragedi migran tewas akibat kapal mereka tenggelam di laut kembali terjadi yang membuat PBB memperingatkan bahwa 2016 dapat menjadi tahun mematikan bagi para migran yang melakukan perjalanan ke Eropa. Sepanjang tahun ini sekitar 330.000 migran telah menyeberangi lautan, sedangkan pada tahun lalu jumlahnya melebihi satu juta orang.

Peringatan PBB ini dilontarkan setelah otoritas keimigrasian di Italia mengkonfirmasi soal karamnya kapal migran di perairan Libia yang menewaskan ratusan penumpangnya. Kapal tersebut tenggelam karena muatannya berlebihan dan juga akibat cuaca buruk.

Sejauh ini laporan menyebutkan, 239 migran tewas. Jubir Badan Pengungsi PBB (UNHCR) Carlotta Sami di Jenewa mengatakan, dari ratusan yang tewas itu, termasuk enam bocah dan sekitar 20 orang perempuan dewasa, yang di antaranya hamil. Laporan BBC menyebutkan bahwa baru 12 jenazah yang ditemukan dan 29 orang berhasil diselamatkan.

Para migran tersebut berangkat dari perairan Libia menuju Eropa. Dalam hal ini, Italia yang perairannya berbatasan dengan Libia menjadi pintu masuk para migran untuk menetap di Eropa.

Selain Italia, pintu masuk lainnya adalah Yunani yang berbatasan dengan Turki dan Spanyol yang berbatasan dengan Maroko. Tak heran di ketiga negara tersebut, jumlah migran sangat banyak. Mereka ini diproses di ketiga negara tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke negara Eropa lainnya, seperti Jerman,Denmark, Belanda, Belgia dan lainnya.

Banyak dari migran ini menggunakan jasa penyelundup manusia agar bisa melanjutkan perjalanan ke Eropa. Jasa ini tak gratis. Mereka terpaksa menjual rumah, mobil dan harta benda lainnya untuk membayar jasa para penyelundup yang diharapkan bisa membawa mereka ke Eropa. Sebagian besar para penyelundup manusia tersebut berbasis di Turki yang sejak konflik Suriah meletup tahun 2011, menjadi tempat penampungan terbesar warga asal negeri Bashar al-Assad tersebut. (*)

BERITA REKOMENDASI