21 Perupa RI-Belanda Tampil di POT Europalia

BRUSSEL, KRJOGJA.com –  Pemerintah Indonesia berupaya maksimal untuk dapat memfasilitasi para perupa dan pekerja seni Indonesia untuk tampil di panggung internasional.  Harapannya, dengan proses ini terjadi saling pengertian baik antara negara penyelenggara kali  ini Belgia dan Indonesia, para seniman, kurator, galeri seni dan pihak terkait lainnya. 

“Ke depan diharapkan seniman Indonesia bisa mendapatkan kesempatan lebih banyak lagi dalam ajang yang bergengsi di tingkat dunia. Tentu saja agar pemerintah Indonesia bisa lebih siap untuk memfasilitasi seniman-seniman terbaik dari seluruh penjuru negeri,” kata Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nadjamuddin Ramly di sela meninjau ‘Power and Other Things’ (POT) di Festival Seni Internasional Europalia. Kegiatan berlangsung 17 Oktober 2017 –  21 Januari 2018 di Galeri Seni Bozar Brussels, Belgia. 

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Prof Bambang Hari Wibisono dalam siaran pers yang diterima Redaksi KRJOGJA.com, Kamis (19/10) menyebutkan pameran diikuti 21 perupa Indonesia dan perupa Eropa. Lukisan dan sketsa yang dipamerkan merupakan koleksi Istana Kepresidenan, Galeri Nasional Indonesia, OHD Museum, Galeri Nasirun, dan S Sudjojono Center. Selain karya lukisan dan sketsa, pameran juga menampilkan karya instalasi baru dari para perupa lintasgenerasi Indonesia di antaranya FX Harsono, Agung Kurniawan, Mella Jaarsma, Saleh Husein, Maryanto, Antariksa, Dea Aulia Widyaevan, Leonardiansyah Allenda, Lifepatch, Timoteus Anggawan Kusno dan Octora Chan. 
Dalam rangkaian POT, Kamis (19/10) diselenggarakan simposim internasional ‘Lupa-lupa Ingat : Imperial Zombies, Modern Vampires and Contemporart Ghost’ di Royal Museum for Central Africa Brussel. Simposium membahas sejarah konflik di Indonesia dan kaitannya dengan sejarah pascakolonialisme
Dikatakan Nadjamuddin, ‘Pameran POT’ sebagai rangkaian Festival Seni Europalia menjadi penting untuk menampilkan karya-karya para perupa Indonesia mulai dari klasik hingga kontemporer. (Fsy)

BERITA REKOMENDASI