Amerika Beri Sanksi Jenderal Myanmar

Editor: Ivan Aditya

MYANMAR, KRJOGJA.com – Amerika Serikat menjatuhkan sanksi bagi 13 individu yang dianggap Washington sebagai "pelaku pelanggaran HAM serius dan koruptor", termasuk seorang Jenderal Myanmar, Maung Maung Soe.

Sanksi tersebut cukup mengejutkan, di saat Myanmar menjadi  sorotan internasional terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) oleh militer  terhadap etnis Rohingya. Pasca serangan kelompok bersenjata Tentara Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA) terhadap pos-pos militer Myanmar, 25 Agustus lalu, aparat melakukan operasi pembersihan.

Operasi militer itu diduga melakukan pembantaian dan pemerkosaan terhadap etnis Rohingya. Akibatnya  lebih dari 650 ribu etnis Rohingya mengungsi ke perbatasan Bangladesh.

"AS memeriksa bukti kredibel soal aktivitas Maung Maung Soe. Termasuk tuduhan terhadap dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan tentara Myanmar. Seperti pembunuhan, kekerasan seksua, penangkapan sewenang-wenang, hingga pembakaran desa secara sengaja," bunyi pernyataan Kementerian Keuangan AS.

Sanksi itu ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Global Magnitsky yang disahkan Kongres pada 2012 lalu. Individu yang terkena sanksi, seluruh asetnya terutama yang berada di bawah yurisdiksi Amerika Serikat akan diblokir.

Sanksi itu juga akan mengisolasi akses individu atau entitas dari sistem keuangan global. Jenderal Maung Maung Soe disebut sebagai bertanggung jawab atas operasi militer yang diduga menewaskan lebih dari 1.000 etnis Rohingya sejak Agustus lalu.

AS dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengancam akan memberi sanksi bagi oknum  bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan di negara Asia Tenggara tersebut. Keduanya juga menganggap tragedi kemanusiaan di Myanmar sebagai upaya pembersihan etnis oleh militer. (*)

BERITA REKOMENDASI