Amerika Nantikan Kepemimpinan Trump

Editor: Ivan Aditya

WASHINGTON (KRjogja.com) – Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) 8 November 2016 lalu menjadi momentum yang sangat mengejutkan, baik itu bagi warga AS maupun dunia. Bahkan, bagi banyak orang, khususnya para pendukung pluralisme, kemenangan miliuner asal kota New York tersebut merupakan bencana politik. Pasalnya, Trump dinilai sebagai sosok yang rasis dan kerap melontarkan pernyataan kontroversial yang kerap menimbulkan kegaduhan politik, bukan hanya di dalam negeri, melainkan juga di tingkat internasional.

Trump dinilai sebagai sosok yang tak pantas untuk memimpin AS karena banyak pernyataannya kerap memecah-belah warga AS yang sangat pluralis itu. Berbagai kalangan, seperti warga hispanik, muslim, kaum difabel, kaum perempuan, kelompok LGBT pernah dihina Trump.  Akan tetapi, ini semua ternyata tak membuatnya terjungkal dari arena pilpres.

Kenyataannya, warga AS telah menentukan pilihan mereka. Donald Trump menang telak atas Hillary Clinton. Hasil pilpres menunjukkan Trump meraih 304 suara elektoral (EV), sedangkan rivalnya, hanya mendapat 227 EV. Untuk menjadi presiden AS hanya dibutuhkan 270 EV, dan Trump berhasil melampaui syarat tersebut, yang mengantarkannya menjadi menjadi pengusaha pertama di AS yang berhasil menjadi presiden AS dan akan segera dilantik pada 20 Januari 2017 mendatang. Ini menjadi catatan sejarah tersendiri dalam politik AS sejak negara itu  berdiri lebih dari 200 tahun lalu.

Presiden AS sebelumnya memang ada yang berlatarbelakang keluarga pengusaha, yakni George Bush yang berasal dari keluarga miliuner minyak asal Texas. Namun, beda dengan Donald Trump, George Bush terjun ke politik setelah mundur dari bisnis. Setelah puluhan tahun menjadi kader Partai Republik dan memegang  berbagai jabatan di partai tertua di AS, Bush baru kemudian terpilih menjadi presiden AS.

Sementara Trump baru terjun ke politik setelah mencalonkan diri sebagai capres yang membuatnya selama ini tak pernah menjabat sebagai fungsionaris partai. Tak heran banyak petinggi Partai Republik sempat  menyepelekannya. Banyak petinggi Partai Republik tak pernah mengira Trump akan lolos dalam proses pemilihan kandidat capres, mulai dari tingkat kaukus sampai primary yang kemudian akhirnya mengantarkan Trump sebagai capres dari Partai Republik dam konvensi nasional Juli 2016 lalu.

Ternyata Trump menang dan ini menjadi gempa politik kedua pada 2016 setelah Brexit. Pria lulusan University of Pennsylvania itu dinilai piawai memainkan psikologis warga AS yang selama pemerintahan Barack Obama periode kedua, khawatir dengan banyaknya lapangan pekerjaan pindah ke luar AS dan serangan teroris.  Trump yang selama ini  bergelut di bidang bisnis pun diyakini mayoritas warga AS mampu mengembalikan lapangan pekerjaan yang selama ini didayaalihkan ke pekerja di luar AS, seperti Tiongkok. (*)

BERITA REKOMENDASI