Berwisata di Jabal Magnet, Buktikan Langsung Mobil Bergerak Saat Mesin Dimatikan

MADINAH, KRJOGJA.com – Lepas puncak musim haji 1440H, Tim Media Center haji (MCH) 2019 wilayah Daerah Kerja Madinah menyempatkan diri mengunjungi Jabal Magnet (Magnetic Hill). Terletak sekitar 60 kilometer dari pusat Kota Madinah Al Munawarah. 

Baca Juga: Turki Berminat Belajar Pengelolaan Haji Indonesia

Sejak berangkat, sudah terbayang bagaimana nantinya melihat suatu keajaiban, mobil yang dimatikan mesinnya namun dapat berjalan dengan sendirinya. Meski banyak juga yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan ilusi optik.

Sepanjang perjalanan, hamara padang pasir dan pegunungan batu terhampar berwarna kemerahan. Cuaca yang cukup menyengat di atas 40 derajat celcius rupanya makin terasa di tengah padang sahara tersebut. Beberapa kilometer sebelum sampai di Jabal Magnet, terlihat sebuah danau yang cukup luas meski debit airnya terbilang sdikit untuk ukuran luas danau.

Rofii Rokib Misri, driver MCH Madinah menyebut bahwa danau tersebut menjadi penanda atau batas wilayah Jabal Magnet. Dan benar saja, tidak lama, Tim MCH Madinah 2019 tiba di lokasi yang juga dikunjungi jemaah haji dari negara lain. Ujung jalan beraspal yang dibuat melingkar. Jika di daerah Yogyakarta khususnya, mungkin lebih dikenal dengan istilah 'Bunderan' karena pengunjung akan kembali ke arah dia datang setelah berputar di jalan melingkar tersebut.

Hanya saja, ketika sampai di lokasi tersebut, tidak banyak yang melakukan tes daya magnetnya. Malahan, di kanan kiri jalanan, di tengah gurun sahara, berdiri sejumlah tenda yang menawarkan persewaan unta tunggangan dan sepeda motor ATV untuk pengunjung.

Selama TIM MCH Madinah 2019 di lokasi, hampir tidak ada yang mengetes daya magnet dengan mobil tanpa dihidupkan mesinnya. Ketika sopir MCH Madinah mematikan mesin mobil dan membebaskan pedal rem, memang kendaraan sempat berjalan sendiri.

Tapi hal tersebut lebih karena kondisi jalan yang kurang rata. Mobil cenderung berjalan ke arah turunan. Begitu pula ketika salah seorang anggota MCH Madinah mencoba meletakkan botol air mineral di jalan tersebut, menggelinding ke arah jalan yang secara visual terlihat menurun.

Hal itu yang membuat beberapa anggota MCH agak kecewa karena arah kendaraan bergerak lebih karena kontur jalan yang kurang rata. Justru, wisatawan banyak yang cenderung menikmati fasilitas lain dengan menunggang unta atau naik motor ATV melewati area padang pasir. Tidak sedikit pula yang menghabiskan waktu dengan mengabadikan momen melalui kamera ponsel masing-masing.

Beberapa jam di lokasi tersebut, akhirnya Tim MCH Madinah memutuskan kembali ke Kantor Urusan Haji Indonesia Daker Madinah. Rasa penasaran masih menyelimuti. Sekitar lima menit perjalanan, Tim MCH Madinah meminta driver untuk melakukan tes kekuatan magnet lagi. Kebetulan dipilih kontur jalan yang cenderung menanjak. 

Rofii dengan sigap mematikan mesin dan memastikan gigi persnelling serta pedal rem dalam kondisi bebas. Tanpa ada yang turun dari kendaraan, semua anggota TIM MCH Madinah berjumlah 12 orang dari berbagai media di Indonesia ingin merasakan langsung kondisi medan magnet di tempat tersebut.

Perlahan, mobil mulai berjalan maju ke arah jalan yang menanjak. Tidak ada yang coba mengabadikan. Cukup dengan pengalaman, bahwa memang ada daya magnet di Jabal Magnet. Karena kawasan Jabal Magnet yang memang luas, sehingga tidak semua titik memiliki kekuatan magnet yang sama. Hanya saja yang jelas ketika dibuktikan dengan mobil berhenti dalam kondisi mati dan tanpa rem dapat bergerak mendaki tanjakan meski tidak terlalu tajam.

Baca Juga: Malaysia Ingin Perkuat Kerjasama Haji dengan Indonesia

Seperti dikutip dari sejumah sumber, kawasan Jabal Magnet merupakan endapan lava 'alkali basaltik' seluas 180.000 kilometer persegi yang berusia muda. Lava yang bersifat basa itu muncul ke permukaan bumi dari kedalaman 40-an kilometer melalui zona rekahan sepanjang 600 kilometer yang dikenal sebagai 'Makkah-Madinah-Nufud volcanic line'. (Feb)

BERITA REKOMENDASI