Cegah Hal yang Merugikan, Pengawasan Ketat untuk Penyelenggaraa Haji Khusus

MADINAH, KRJOGJA.com – Lebih dari 2.500 jemaah haji khusus telah tiba di Tanah Suci yang berasal dari sekitar 30 penyelenggara ibadah haji khusus (PIHK). Tahun ini, ada 271 PIHK atau lebih dikenal sebagai perusahaan travel, yang memiliki jemaah lunas bisa diberangkatkan. 

"Dari kuota haji khusus sebanyak 17.000 jamaah, yang dipastikan berangkat sebanyak 16.960 jemaah," kata Kepala Seksi Pengawasan PIHK Madinah Ali Machzumi kepada tim MCH 2019, Senin (22/7/2019). 

Menurutnya, jemaah haji khusus dilayani PIHK secara khusus. Walau begitu, sesuai aturan ada beberapa hal yang harus dipenuhi perusahaan travel haji tersebut. Soal akomodasi, hotel yang digunakan jemaah haji khusus minimal bintang empat ke atas dengan jarak tidak lebih 500 meter dari Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. 

"Ada paketnya. Ada sekamar berempat, bertiga atau berdua," jelas Ali. 

Sementara dari sisi makanan, jemaah haji khusus mendapat jatah sarapan sehingga mereka dapat makan tiga kali sehari serta disajikan dalam prasmanan. "Sesuai kontrak harus menu Indonesia," ucapnya. 

Soal kesehatan juga ada aturan khusus yang harus dipenuhi perusahaan travel. Minimal harus ada satu dokter tiap 90 jemaah. Mereka juga membawa pasokan obat-obatan sendiri.

"Kami sifatnya mengawasi penyelenggaraannya," ucap Ali.

PIHK juga harus mematuhi regulasi yang meyebutkan bahwa jemaah  haji khusus harus berada di Arab Saudi maksimal 27 hari. Namun begitu ada yang lebih atu atau dua hari karena sejumlah travel kesulitan memanage paket. 

Dengan pelayanan ini, jemaah dapat menyampaikan keluhan jika ada hal yang tidak sesuai kesepakatan. Paling tidak ada dua acuan yang harus diikuti PIHK, terkait regulasi dan kontrak dengan jemaah. 

Sesuai aturan, biaya jemaah haji khusus dipatok minimal USD 8.000. Sementara untuk batas atas, pihaknya tidak membatasi. Biaya haji ini, kata Ali akan disesuaikan dengan paket yang ditawarkan travel. (Feb)

BERITA REKOMENDASI