Dampak Virus Korona, Box Office China Kembalikan Uang Pelanggan Bioskop Rp2,74 Triliun

JAKARTA, KRJOGJA.com – Perusahaan penjual tiket bioskop (Box Office) di China harus mengembalikan uang kepada pelanggan sekira 1,4 miliar yuan setara Rp2,74 triliun (kurs Rp1.957 per yuan). Hal itu sehubungan adanya penarikan film karena adanya wabah virus korona yang menyebar.

Melansir CNBC, Jumat (24/1/2020), ada sekira tujuh film yang dijadwalkan rilis selama liburan Tahun Baru Imlek. Rencananya pemutaran film akan dilakukan pada Jumat dan Sabtu nanti.

Data situs tiket, Maoyan menyampaikan, pemutaran film harus dibatalkan sehubungan adanya virus yang menewaskan belasan orang. Atas kejadian tersebut, Maoyan memperkirakan setidaknya terjadi transaksi pembelian tiket sekira 1,4 miliar yuan untuk tujuh film.

"Dalam sebuah postingan online, mereka akan mengembalikan uang kepada pelanggan sehubungan dengan penarikan film tersebut," tulis Maoyan.

Seperti diketahui, virus korona pertama kali muncul ke permukaan Desember 2019 di kota Wuhan. Jumlah korban virus meningkat dengan pesat dalam beberapa hari terakhir.

Kota Wuhan saat ini sedang dikarantina, dan penduduk setempat harus mengenakan masker di tempat umum. Liburan Tahun Baru Imlek atau Festival Musim Semi berlangsung selama satu minggu secara resmi dimulai pada hari ini, Jumat 24 Januari. Ini merupakan moment di mana film-film China mulai dirilis.

Seperti tahun lalu, film blockbuster China "The Wandering Earth" membantu meningkatkan pendapatan box office selama Festival Musim Semi menjadi 5,83 miliar yuan setara Rp11,41 triliun. Ini naik dari 5,77 miliar yuan dibandingkan 2018 dan 3,42 miliar yuan pada 2017.

Pada tahun ini, beberapa film yang akan dirilis merupakan film yang dinanti-nantikan untuk ditonton oleh masyarakat sana. Salah satunya film "Detective Chinatown 3", "Lost in Russia", "Legend of Deification", dan "Leap".

Wabah virus korona ini juga berdampak pada pasar saham, seperti Saham Wanda Film ditutup menurun 20% selama lima hari terakhir. Sedangkan saham China Film ditutup menurun lebih dari 17% selama lima hari terakhir. Secara teoritis, kurangnya penayangan film-film blockbuster selama hari libur nasional besar di China membuat warga malas untuk pergi keluar. Apalagi, saat ini wabah virus korona yang meluas telah membuat banyak orang di negeri tirai bambu tersebut lebih memilih diam di rumah. (*)

BERITA REKOMENDASI