Deretan Negara Mulai Membuka ‘Lockdown’, Begini Tahapan yang Harus Dilalui

PANDEMI telah menginfeksi hampir 3 juta orang di seluruh dunia dengan jumlah kematian di seluruh dunia pun lebih dari 200 ribu orang sejak mulai mewabah pada akhir tahun lalu. Amerika Serikat (AS) paling banyak terinfeksi dengan lebih dari 900 ribu orang dan lebih dari 50 ribu orang meninggal.

Di sisi lain, sejumlah negara mulai melonggarkan aturan karantina wilayah atau lockdown akibat pandemi corona. Kebijakan ini dilakukan menyusul keberhasilan Tiongkok mengakhiri kebijakan serupa pada 8 April. Selain Tiongkok, negara mana saja yang akan membuka kembali kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 itu?

Amerika Serikat

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sudah ‘woro-woro’ di The Star yang berencana membuka kembali negaranya pada awal bulan depan. Beberapa negara bagian seperti Georgia, Oklahima dan Alaska bahkan sudah melonggarkan aturan karantina wilayah untuk kepentingan bisnis.
Meskipun begitu, Kementerian Kesehatan AS memperingatkan keputusan Trump terlalu dini mengingat risiko gelombang kedua infeksi corona.

Iran Buka Masjid

Presiden Iran Hassan Rouhani juga berencana membuka kembali masjid-masjid di beberapa bagian negara yang secara konsisten bebas dari wabah virus corona. Iran, yang merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang paling terpukul pandemi, kata Rouhani, akan dibagi menjadi wilayah putih, kuning, dan merah berdasarkan jumlah infeksi dan kematian.

Kegiatan di tiap-tiap wilayah akan dibatasi sehingga daerah yang secara konsisten bebas dari infeksi atau kematian akan diberi label putih dan masjid bisa dibuka kembali dan salat Jumat bisa dilakukan kembali.

Dikutip dari Channel News Asia, Senin (27/4), dia mengatakan label yang diberikan ke wilayah mana pun di Republik Islam itu bisa berubah. Namun, dia tidak menentukan kapan program kode warna tersebut akan berlaku.

Warga Iran telah kembali ke tokotoko, pasar-pasar, dan taman-taman selama sepekan terakhir karena negara itu melonggarkan pembatasan akibat virus korona.

BERITA REKOMENDASI