Detensi Imigrasi Malaysia Ternyata Mayoritas Dihuni WNI

MALAYSIA, KRJOGJA.com – Depot Imigresen Bukit Jalil (DIBJ), Rabu 13 Februari 2019 di kawasan Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia adalah sebuah pusat detensi bagi warga negara asing yang tersangkut beragam kasus keimigrasian di Negeri Jiran. Mereka ditahan di sana hingga penyelesaian akibat pelanggaran yang dilakukan rampung.

Menurut istilah DIBJ, para tahanan disebut sebagai Orang Kena Tahan (OKT). Meski menjadi tahanan, mereka tetap menerima perlakuan yang layak.

Para OKT mendapatkan kesempatan untuk berolahraga, sementara tahanan perempuan yang sudah memilliki keturuan bisa tetap bermain dengan anaknya (jika ia masuk dalam DIBJ ketika membawa anak atau tengah mengandung).

Mereka semua juga mendapat makanan dengan asupan gizi yang seimbang. Fasilitas kesehatan berupa vaksin dan perawatan khusus bagi mereka yang mengidap penyakit serius pun ada.

Selain itu, fakta mengejutkan di balik rumah detensi Malaysia mengungkap bahwa banyak warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan di dalamnya. Dalam masa penahanan juga ada pernikahan sejoli, sementara sejumlah bayi dilaporkan lahir saat orangtua mereka ditahan.

Berikut ini ulasan singkatnya, saat rombongan jurnalis asal Indonesia berkunjung ke Depot Imigresen Bukit Jalil (DIBJ), bersama Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia – Indonesia (Iswani) pada Rabu 13 Februari 2019.

Staf Hubungan Masyarakat DIBJ, Mohd Faiz Bin Azhar memaparkan bahwa kisaran total tahanan di DIBJ mayoritas berasal dari Indonesia dan Bangladesh. Sisanya dari Arab Saudi dan Myanmar.

Ia juga menjelaskan angka pasti total jumlah OKT di DIBJ fluktuatif, karena keluar masuknya para tahanan berlangsung relatif cepat. Saat ini sedikitnya ada 600 WNI di DIBJ.

"Sekitar 600 sampai 800 WNI ditahan di sini. Mereka yang dibawa ke sini karena berbagai macam kasus, mulai dari overstay, penyalahan izin kerja dan pelanggaran imigrasi lainnya," tutur Faiz.

Kepala Pusat Detensi Imigrasi Kuala Lumpur, MD Noor, kemudian mengiyakan bahwa selain kelebihan izin tinggal, banyak WNI yang terkena kasus imigrasi karena masa berlaku paspor sudah habis.

Faiz mengatakan bahwa umumnya detensi imigrasi Bukit Jalil menampung sekitar 1.300 orang. Mereka akan berada di detensi selama 14 hari sembari menunggu hasil persidangan.

"Biasanya ditahan 14 hari, setelah keputusan pengadilan dikirim penjara, setelah keluar dari penjara mereka akan di bawa kembali ke sini untuk kemudian dipulangkan," jelas Faiz.

Menurut MD Noor, tak sedikit juga tahanan yang mendekam di detensi hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Faiz mengatakan orang yang lama tertahan itu rata-rata tak memiliki kewarganegaraan.

"Jadi mereka mungkin berkewarganegaraan campuran seperti India atau Melayu tetapi berbahasa Indonesia. Ketika diminta dokumen identitas diri seperti paspor tak punya dan ketika pihak kedutaan mengonfirmasi, mereka tidak bisa mendata orang-orang itu," ujarnya.

Untuk proses pemulangan, Faiz mengatakan imigrasi Malaysia selalu berkoordinasi dengan kedutaan negara si pelanggar, termasuk KBRI di Kuala Lumpur. Pihak imigrasi akan mengutamakan proses pemulangan berdasarkan kasus dan kondisi kesehatan para pelanggar.

"Dalam proses pemulangan kami berkoordinasi dengan KBRI. Biasanya KBRI ikut urus tahanan yang masalahnya karena masa paspor habis. Tapi soal tiket pulang itu dari pribadi individunya biasanya. Kami juga kerap mempercepat proses pemulangan bagi para pelanggar imigrasi yang tidak sehat," imbuh Faiz.(*)

 

BERITA REKOMENDASI