Dilarang Nyapres, Saingan Putin Serukan Pendukung Boikot Pilpres Rusia

MOSKOW (KRjogja.com) – Pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny dilarang untuk maju dalam pemilihan presiden Rusia yang akan digelar tahun depan. Navalny dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk maju sebagai calon presiden (capres) karena memiliki penangguhan hukuman yang dia sebut sebagai tuntutan palsu.

Keputusan yang diumumkan oleh Komisi Pemilihan Pusat Rusia itu telah diperkirakan sebelumnya mengingat pejabat pemilihan telah berulangkali menyebut Navalny tidak berhak untuk mengikuti pemilihan sebagai capres. Dari 13 anggota komisi 12 di antaranya memutuskan untuk melarang Navalny untuk mencalonkan diri, sementara seorang anggota lainnya menyatakan abstain dengan alasan konflik kepentingan.

Salah satu pejabat komisi, Boris Ebzeev mengatakan, dirinya tidak memiliki keraguan bahwa Navalny tidak layak untuk mengikuti pemilihan sebagai capres. Hal itu disebabkan karena salah satu hukuman Navalny yang ditangguhkan terkait dengan kasus penggelapan uang.

"Kita berbicara tentang hukum dan mematuhi hukum,” ujar Boris.

Navalny sendiri telah berulangkali menyatakan dirinya tidak bersalah dan menuding kasus yang dikenakan terhadapnya memiliki motif politik.

Merespons keputusan itu, Navalny menyatakan akan mengajukan banding dan menyerukan para pendukungnya untuk memboikot kampanye dan pemilihan presiden yang akan digelar. Jajak pendapat terakhir menunjukkan bahwa pria berusia 41 tahun itu diperkirakan akan kesulitan untuk mengalahkan calon incumbent, Vladimir Putin.

“Kami tahu hal ini akan terjadi jadi kami memiliki rencana yang jelas dan langsung. Kami mengumumkan boikot terhadap pemilihan. Proses yang kami diminta untuk berpartisipasi bukanlah pemilihan sebenarnya. Pemilihan itu hanya akan menampilkan Putin dan kandidat yang telah dia pilih secara pribadi,” kata Navalny melalui rekaman video sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (26/12/2017).

Dia mengatakan, akan menggunakan markas kampanyenya di seantero Rusia untuk mendukung boikot dan mengawasi hasil suara pada hari pemilihan 18 Maret 2018 mendatang.

Jajak pendapat terakhir menunjukkan Putin sebagai favorit kuat untuk kembali menjabat sebagai Presiden Rusia untuk enam tahun mendatang. Sekutunya menyanjung pria berusia 65 tahun itu sebagai sosok “bapak bangsa” yang mengembalikan kebanggaan nasional Rusia.

Namun, Navalny menganggap dukungan untuk Putin terlalu dibesar-besarkan dan dipertahankan secara palsu oleh media pemerintah yang bias dan sistem yang tidak adil. Ayah dua anak itu menegaskan bahwa dia dapat mengalahkan Putin dalam sebuah pemilihan yang adil. (*)

BERITA REKOMENDASI