Din : Dunia Hadapi Kerusakan Akumulatif

Editor: KRjogja/Gus

HONGKONG (KRJogja.com) – Untuk menanggulangi kerusakan dunia yang  bersifat akumulatif, diperlukan peran negara atau koalisi negara-negara dengan posisi tengahan (median position). Indonesia, dalam hal ini merupakan negara dengan posisi tengahan dan orientasi jalan tengah (the middle way). Negara-negara dengan watak dan corak seperti ini akan dapat tampil sebagai  problem solver atau penyelesai masalah-masalah dunia.

Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-agama dan Peradaban Prof Din Syamsuddin mengemukakan hal tersebut di Hongkong, Senin (13/11), menjawab pertanyaan. Usai berbicara sesi pertama tentang ‘Amerika Serikat, China, dan Optimisme Menghadapi ketakpastian dunia’, moderator bertanya negara mana yang tepat dan selama dua dasawarsa terakhir menerapkan 'soft power' dalam menanggulangi kerusakan peradaban dunia itu.

“Negara Indonesia,” tegas Din menjawab pertanyaan tersebut dalam 'The 9th World Chinese Economic Summit' (Pertemuan Puncak Ekonomi China) di Hongkong yang berlangsung hingga Senin (14/11) di Ballroom Shangrila Hotel. Pertemuan puncak tersebut merupakan agenda tahunan para Tionghoa diaspora dari seluruh dunia, dan telah berLangsung sejak 2008. Dihadiri sekitar 350an tokoh Tionghoa diaspora, yang mayoritas pengusaha.

Pertemuan kali ini mengangkat tema ‘Managing Global Uncertainty, Exploring Opportunities’ atau ‘Mengelola Ketakpastian Dunia, Mengungkap Peluang-peluang’. Diundang dalam kapasitas sebagai Utusan Khusus Presiden, Din berbicara sesi pertama tentang ‘Amerika Serikat, China, dan Optimisme Menghadapi ketakpastian dunia’.

Sebelumnya Din memaparkan, saat ini dunia bukan hanya menghadapi ketidakpastian, tapi juga kekacauan dan kerusakan akumulatif. Hal ini berpangkal pada sistem dunia yang rancu. Kerancuan itu telah menurunkan sub-sub sistem dalam bidang ekonomi, politik dan budaya yang juga mengandung kerancuan.

“Realita inilah yang kemudian memunculkan ketiadaan damai dalam bentuk kemiskinan, kebodohan, kesenjangan, ketidakadilan, kekerasan dalam pelbagai bentuk hingga kerusakan lingkungan hidup,” tandas Guru Besar Politik Islam Global Pascasarjana UIN Jakarta tersebut.

Solusi terhadap kerusakan peradaban dunia menurut Din adalah dengan mengubah sistem dunia itu sendiri. “Selama ini dunia terlalu berwajah antroposentristik, menjadikan mahusia sebagai pusat kesadaran. Dunia kurang berwajah teosentristik, Tuhan sebagai pusat kesadaran,” tandas Din. Akibatnya, menurut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut, peradaban dunia kering kerontang dari nilai etika dan moral.

Disebutkan, dalam bidang ekonomi terjadi yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Akibatnya kemudian, menciptakan kesenjangan serta ketakadilan. Dalam bidang politik terjadi proses 'zero sum game', yakni kecenderungan saling menafikan dan mendominasi yang sering menimbulkan konflik. “Begitu pula dalam bidang budaya merajalela budaya liberal dan hedonis,” ujar Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-agama dan Peradaban. (Fsy)

 

BERITA REKOMENDASI