Din Syamsddin Sampaikan ‘Jalan Tengah’ Islam -Pancasila

LONDON, KRJOGJA.com – Prinsip Jalan Tengah Islam (wasathiyah), menjadikan umat Islam sebagai Umat Tengahan (ummatan wasathan), menekankan prinsip keseimbangan, moderasi, toleransi, dan antiekstrimitas.  

Pancasila adalah Ideologi Jalan Tengah. Posisi tengahan ini antara lain dijelaskan oleh adanya nilai  keseimbangan antara orientasi ketuhanan dan kemanusiaan. Juga  keseimbangan pada orientasi kemanusiaan itu sendiri yaitu antara individualisme dan kolektifisme, yang  bermuara pada pentingnya keadilan bagi semua.

Utusan Khusus Presiden untuk  Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Prof Din Syamsuddin menjadi pembicara pada Diskusi Meja Bundar di Oxford Centre for Islamic Studies, Universitas Oxford, Inggeris. Dalam siaran pers yang dikirim dan diterima Redaksi Rabu (20/12). 

Selama berada di Inggeris, Din Syamsuddin sudah bertemu dan  beraudiensi dengan  Sekjen Persekutuan Gereja-gereja  Anglican, Archbishop Josiah Atkins Idawu-Fearon di Keuskupan Cantenbury.  Sebelumnya, mengisi Sarasehan Mahasiswa Indonesia tentang Politik Ekonomi dan Deglobalisasi dan Silaturahmi dgn Masyarakat Indonesia di Inggeris di KBRI London.

“Jalan Tengah Pancasila,  menjelma pada paradigma politik yang menekankan permusyawatan untuk adanya kesepakatan. Untuk  paradigma ekonomi yang tidak  kapitalistik dan tidak  sosialistik,” tandas Din yang berbicara tentang  ‘The Middle Path: Islam and Pancasila for the World Civilization’.

Diakui, walau berbeda kategori karena  Islam merupakan agama berdasarkan wahyu Tuhan sedang Pancasila sebagai ideologi buatan manusia. Meski demikian menurut matan Ketum PP Muhammadiyah,  keduanya menekankan prinsip Jalan Tengah. “Hal itu terjadi adalah karena Pancasila itu sendiri merupakan kristalisasi nilai-nilai  Islam dlm lingkup kehidupan bernegara,” tambah Din yang juga Guru Besar Pemikiran Politik Islam FISIP UIN Jakarta.

Wawasan Jalan Tengah ini sangat cocok buat peradaban dunia yang rusak dewasa ini lantaran terjebak ke dalam ekstrimisme. Sistem Dunia selama ini sangat berwajah antroposentristik, yakni menjadikan manusia sebagai pusat kesadaran, dan kurang berwajah teosentristik yaitu menjadikan Tuhan sebagai pusat kesadaran.

Akibatnya, peradaban manusia sepi dari nilai-nilai  etika dan moral, yg pada giliran berikutnya menciptakan berbagai bentuk ketiadaan damai. Seperti kemiskinan, kebodohan, ketakadilan, kerusakan lingkungan hidup, dan berbagai bentuk kekerasan. (Fsy)

BERITA REKOMENDASI