Dua Bulan Memerintah, Duterte Tembak Mati 1.800 Penjahat Narkoba

Editor: Ivan Aditya

MANILA (KRjogja.com) – Selama kurang lebih dua bulan pemerintahan Presiden Filipina Rodrigo Duterte, sekitar 1.800 orang penjahat narkoba telah tewas. Begitu banyaknya korban yang tewas, senat Filipina pun mempertanyakan kepemimpinan Duterte. Bahkan, para senator Filipina telah memutuskan untuk menginvestigasi pembunuhan yang dilakukan pemerintah Duterte terhadap 1.800 terduga penjahat narkoba.

Senat Filipina menilai kebijakan Duterte yang menembak mati para pelaku narkoba merupakan hal yang salah. Seharusnya, mereka diadili terlebih dahulu bukan langsung ditembak mati. Bahkan, senat juga mengecam tindakan polisi yang menembak sejumlah pengguna narkoba. Mereka ini, kata para anggota senat, seharusnya direhabilitasi.

Senator Leila de Lima yang mengepalai investigasi pembunuhan para pelaku kejahatan narkoba, mengatakan bahwa dirinya khawatir dan prihatin dengan maraknya penembakan yang dilakukan aparat hukum. Dia menyesalkan kebijakan Duterte yang memberlakukan kekebalan hukum terhadap polisi yang menembak mati para terduga mafia narkoba.

Senator lainnya, Antonio Trillanes IV mengatakan, kebijakan Duterte sangat anarkistis. "Ini seperti anarki. Pembunuhan terus berlangsung," ujar Trillanes dikutip Reuters. Lebih lanjut, kata Trillanes, pemerintahan Duterte dan polisi yang telah menembak mati ribuan terduga penjahat narkoba, suatu hari akan bisa dijerat hukuman.

Menurut Antonio, sekarang mereka lolos dari hukuman karena Duterte adalah petahana dan yang memberikan kekebalan hukum kepada aparat. Namun, lanjut Antonio, masa jabatan Duterte tak selamanya. (*)

BERITA REKOMENDASI