Duterte Tak Tolelir Aksi Terorisme

Editor: Ivan Aditya

FILIPINA, KRJOGJA.com – Presiden Filipina Rodrigo Duterte menginginkan seluruh teroris di Marawi, Mindanao, mati dan menolak damai dengan kelompok militan Maute yang tengah berseteru dengan pasukannya di bagian selatan negara itu dan telah memakan ratusan korban jiwa termasuk warga sipil dan tentara.

Duterte mengatakan, dirinya bahkan telah memerintahkan para pasukan militer untuk menembak mati musuh-musuhnya itu. "Saya tidak akan berbicara pada kalian. Apa pun yang pemimpin kelompok militan itu katakan, saya tak peduli. Saya telah memerintahkan [militer] untuk membawa [potongan] kepala para militan brengsek itu," kata Duterte dalam sebuah pidato di markas angkatan udara Machtan-benito, Cebu.

Bentrokan di Marawi pecah setelah ratusan pemberontak Maute mengamuk sejak akhir Mei lalu, menyusul gagalnya operasi penangkapan pemimpin Abu Sayyaf Isnilon Hapilon. Presiden Filipina Rodrigo Duterte pun menetapkan darurat militer di sekitar wilayah Pulau Mindanao.

Pertempuran selama hampir dua pekan ini setidaknya telah menewaskan 178 orang termasuk 38 warga sipil. Per tanggal 2 Juni, tim darurat Pulau Mindanao melaporkan telah ada sekitar 221 ribu warga sipil yang mengungsi keluar dari Marawi.

Sekitar 51 ribu orang berada di pusat evakuasi sementara 163 ribu lainnya tinggal dengan sanak keluarga di luar wilayah bermayoritaskan umat Muslim itu. Duterte berjanji bahwa bentrokan ini akan berakhir dalam beberapa hari ke depan. Dia bahkan mengklaim bisa mengakhiri pertikaian di Marawi hanya dalam beberapa jam menggunakan bom. (*)

BERITA REKOMENDASI