Empat Faktor Penyebab Gangguan Kesehatan Jemaah Haji

Editor: Ivan Aditya

MADINAH, KRJOGJA.com – Setidaknya ada empat hal yang dapat memicu gangguan kesehatan pada jemaah haji. Bahkan jika hal tersebut tidak diantisipasi dengan cermat, dampak terburuk yang dapat ditimbulkan yakni kematian.

Hal tersebut disampaikan Kasi Layanan Kesehatan PPIH Arab Saudi dr Edi Supriyatna dalam Sosialisasi Kesehatan KKHI kepada petugas kloter di Kantor Sektor 2 Madinah, Senin (26/8). Keempat faktor tersebut, yakni air minum, suhu, kelelahan dan adaptasi.

"Air minum sangat penting. Dengan kelwmbaban yang rendah di Saudi Arabia, potensi dehidrasi menjasi ancaman. Dehidrasi akan menyebabkan jemaah menjadi sakit. Ketika sudah berat tentu akan dirujuk ke rumah sakit dan jika makin berat dapat meninggal," sebut dr Edi.

Dari lebih 300 jemaah haji yang meninggal hingga saat ini, menurut Edi terbanyak di rumah sakit Arab Saudi (RSAS). Artinya jemaah mengalami gangguan kesehatan yang cukup berat saat di kloter hingga tidak mampu ditangani dan dirujuk ke RSAS.

Penyebab kedua yang dapat mengganggu kesehatan jemaah yakni soal suhu di Saudi cukup tinggi dengan kelembaban rendah. Hal tersebut yang mempercepat jemaah terkena dehidrasi. Khususnya bagi jemaah resiko tinggi dengan usia di atas 64/5 tahun, dehidrasi menjadi pemicu disorientasi atau demensia.

Selain itu faktor kelelahan juga menjadi salah satu kendala yang harus diatasi. Dengan kondisi tubuh lelah, terlebih bagi jemaah lansia atau risti akan cepat mencetuskan penyakit yang sudah ada di dalam tubuhnya selama ini.

"Keempat adaptasi terhadap lingkungan di Arab Saudi. Ketika kurang mampu beradaptasi akan memicu gejolak yang berakibat pada kondisi kesehatan," lanjutnya.

Padahal menurut Edi, sebenarnya hal tersebut merupakan hal ringan yang dapat diatasi. Hanya saja seringkali jemaah kurang memperhatikan sehingga perlu sosialisasi dan edukasi terus menerus, termasuk dari petugas kloter yang selama ini selalu mendampingi.

Dijelaskan Edi, sampai saat ini ada tiga penyakit yang menjadi pemicu wafatnya jemaah haji, yakni jantung, pernafasan hingga stroke. Hal tersebut umumnya tercetus karena empat faktor yang sudah dijelaskan sehingga semestinya dapat diantisipasi sejak awal untuk meminimalisir dampaknya.

"Termasuk jemaah yang sakit dan dirawat di KKHI untuk segera dipulangkan agar sakitnya tidak makin berat. Sebab ada faktor resiko di internal dan eksternal. Jika ada konvergensi keduanya, jemaah beresiko akan makin sakit," terang Edi.

Dengan begitu saat ini upaya yang harus dilakukan untuk mengawal jemaah supaya tidak terjadi gangguan kesehatan. Termasuk tidak melakukan kegiatan berlebihan yang justru akan menekan kesakitan.

"Sesudah Armuzna sebenarnya hanya tinggal menunggu kepulangan. Dengan kondisi yang lelah, seharusnya tetap menjaga kesehatan sehingga pulang dalam kondisi sehat dan selamat," jelas Edi. (Feb)

BERITA REKOMENDASI