Eni Lestari, Buruh Migran Indonesia Ini Jadi Pembicara di KTT PBB

JAKARTA (KRjogja.com) – Ketua Internasional Migrants Aliance (IMA), Eni Lestari terpilih untuk memberikan pidato pembuka pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Eni merupakan buruh migran Indonesia yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Hongkong. Dia akan memaparkan buruknya kondisi buruh migran di depan kepala-kepala negara yang ada di seluruh dunia di KTT PBB 19 September 2016.

"Saya sudah jadi buruh migran sektor rumah tangga sejak 1999. Buruh migran bukan barang, kami punya suara dan kami tahu yang kami inginkan," kata Eni di Kantor YLBHI, Jakarta Pusat, Minggu (27/8/2016).

Lebih lanjut Eni menjelaskan, KTT ini akan dihadiri oleh 1.900 orang yang terdiri dari kepala negara, menteri, akademisi, tokoh agama dan tokoh dunia. "Ini kesempatan besar untuk menyuarakan suara buruh migran. Ini lompatan besar bagi kami khususnya pegiat buruh migran," katanya.

Eni sendiri terpilih untuk memberikan pidato dari 400 pendaftar. Selanjutnya, dari jumlah itu disaring menjadi 40 orang dan masuk ke proses seleksi bersama 30 orang dari berbagai negara.

"Hanya 30 orang yang masuk ke Ketua Majelis PBB. Saya merasa beruntung saya satu-satunya orang yang membawa suara buruh selain teman saya dari Iran dengan isu pengungsi," jelasnya.

Di PPB sendiri pihaknya akan menekankan bahwa semua negara memiliki buruh. Menurutnya semua negara bisa eksis karena memiliki buruh dan pengungsi. "Semua negara harus menghentikan untuk mengutamakan hanya dari bisnis dan ekonomi. Akan tetapi lebih isu buruh ini ditekankan kepada hak asasi manusia. Ini prinsip fundamental. Selama buruh diperbandingkan dengan profit maka hak dan kesejahteraan buruh tidak akan teralisasi," katanya.

Sekedar informasi, buruh di seluruh dunia ada sekira 230 juta orang yang tersebar di beberapa negara utamanya negara maju. Khusus Indonesia sendiri ada sekira 10 juta TKI.

"Kita ini bekontribusi budaya, ekono politik dan banyak hal. Yang kami tekankan kepada negara penerima supaya mengakui migran dalam ekonomi, politik, sosial. Jangan menganggap kami hanya kelas kedua dan ketiga," paparnya.

Eni berharap agar negara pengirim tidak menjadikan buruh sebagai barang dagangan. Menurutnya buruh adalah aset pembangun negara. "Indonesia sudah kirim TKI sejak 1980 hampir 40 tahun apakah kita mengalami kemajuan? Lantin amerika pengirim terbesar apakah mereka mengalami kemajuan? Semoga ini titik tolak agar negara ini berpikir," tukasnya. (*)

 

BERITA REKOMENDASI