Fidel Castro Simbol Perlawanan Dominasi Amerika

Editor: Ivan Aditya

KUBA (KRjogja.com) – Kehebatan Fidel Castro bertahan dari serangan AS dan juga tindakan pengucilan lainnya, membuat sosoknya sangat dipuja di banyak negara miskin di Amerika Latin, Asia, Afrika dan Arab. Bahkan pemimpin Libia Muammar Qaddafi punya hubungan yang sangat dekat dengan Castro dan menganggap Kuba sebagai sekutu.

Keberanian Castro melawan AS di era Perang Dingin dan juga di era sesudahnya tersebut membuat dua pemimpin Korut sebelumnya, yang juga adalah kakek dan ayah Jong-un, Kim Il-Sung, dan Kim Jong-Il, sangat menghormati Castro. Bahkan, Castro sempat mengunjungi Korut dan selama kunjungannya di negara Stalinis tersebut, pemimpin revolusioner yang suka merokok tersebut, dielu-elukan.

Warga Korut Kim Hong-Chol (76) yang menjadi peneliti sastra di Pyongyang mengatakan bahwa ia masih ingat saat Castro datang ke negaranya. "Dia adalah revolusioner yang sangat hebat. Sampai akhir hayatnya, Castro tetap setia dengan revolusi yang diperjuangkan Kuba dan juga negara kami. Dia tetap berkomitmen melawan semua bentuk penjajahan dan juga melawan Amerika Serikat," ujar Kim.

Mengikuti jejak ayah dan kakeknya yang sangat menghormati Castro, Jong-un, kendati tak mengenal Castro secara personal, dia tahu bahwa pemimpin Kuba tersebut adalah sosok penting dalam perjuangan melawan imperialisme dan kapitalisme. Hal inilah membuat Jong-un menetapkan tiga hari berkabung nasional untuk menghormati Castro yang semasa hidupnya lolos dari ratusan percobaan pembunuhan yang membuatnya dijuluki sebagai Lazarus.

Selain itu, Jong-un juga telah memerintahkan pejabat senior yang juga wakilnya di Partai Pekerja, Choe Ryong-Hae, untuk menghadiri pemakaman Castro pada 4 Desember 2016 mendatang. Sementara itu, kendati Korut dan Kuba sama-sama negara Komunis, ada sejumlah perbedaan saat mengadopsi ideologi tersebut ke dalam sistem pemerintahan.

Dalam hal ini, Korut lebih mengadopsi ajaran Stalin yang melegalkan segala cara, termasuk membinasakan para oposan dan juga para kader separtai yang beda pandangan. Sementara Kuba mengadopsi ajaran Lenin yang mempraktikkan ideologi komunisme mengikuti pemikiran Marx. Adopsi sistem Lenin-Marx ini diyakini Castro sebagai solusi paling jitu untuk mewujudkan keadilan sosial. (*)

BERITA REKOMENDASI