Gempa Sulteng Rusak Menara Peringatan Tsunami di Thailand

Editor: Ivan Aditya

THAILAND, KRJOGJA.com – Ketakutan penduduk lokal di Phuket, Thailand, akan tsunami meningkat setelah gempa berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang Sulawesi Tengah. Kekhawatiran memuncak ketika menara peringatan tsunami di sana tak berfungsi dengan baik.

Ada 19 menara peringatan yang didirikan di Phuket setelah gelombang tsunami menghantam enam provinsi di Pantai Andaman pada 2004. Tsunami yang terjadi di Samudra Hindia itu dipicu oleh gempa berkekuatan 9,15 skala Richter di Indonesia. Bencana itu membuat 226.000 orang tewas dan hilang di Thailand, Indonesia, Sri Lanka, dan sembilan negara lain.

Sejak saat itu, masyarakat setempat melatih pendengaran mereka untuk siaga akan semua suara dari menara peringatan. Sistem ini diperiksa setiap Rabu. Belakangan, pihak pemeriksa menyadari ada kerusakan dalam sistem tersebut.

Mantan pejabat Dinas Kesehatan Publik, Apichai Mohammad, mengatakan bahwa ketika menara pertama kali didirikan, seluruh sistem sebenarnya berfungsi dengan baik. "Namun, akhir-akhir ini, suara dari menara itu hampir tidak terdengar. Volume suaranya hanya 10 persen," tuturnya.

Para ahli seismologi mengatakan bahwa sesungguhnya kemungkinan tsunami di Kepulauan Andaman masih sangat kecil, sementara risiko di teluk Thailand bisa dikatakan tidak mungkin.

"Banyak orang tua, bahkan yang tertua di pulau itu, tidak dapat mengingat bencana tsunami yang pernah terjadi di Andaman selama masa hidup mereka sebelum tsunami pada 2004," kata Paiboon Nuannin, dosen geofisika di Universitas Prince Songkhla.

Meski demikian, Paiboon menganggap sistem peringatan tsunami tetap penting untuk berjaga-jaga. "Sangat penting bahwa pihak berwenang memiliki perintah dan prosedur yang jelas dalam tanggap darurat sehingga orang-orang dapat melakukan latihan tanggap darurat dengan serius dan sepenuhnya bisa mematuhi peraturan resmi," kata Paiboon. (*)

BERITA REKOMENDASI