Ghamamah, Pengingat Awan Mendung dan Hujan

MADINAH, KRJOGJA.com- Mengunjungi Masjid Nabawi, jemaah tidak hanya akan menikmati megahnya bangunan yang lazim disebut Al Haram bagi masyarakat setempat dan penduduk jazirah Arab. Tidak dipungkiri, Makam Rasulullah SAW beserta dua sahabatnya, Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar Bin Khattab menjadi daya tarik utama. Selain tentu terdapat Raudah, salah satu tempat paling mustajab dalam berdoa di dunia yang letaknya berada di samping Makam Nabi Muhammad SAW.

Tapi ketika berada di area Nabawi, jemaah akan dapat menziarahi sejumlah tempat yang legendaris dan sarat nilai. Sebut saja makam Baqi Al Gharqad yang sudah ada sejak jaman Rasulullah SAW, Museum Alquran hingga sejumlah masjid di area luar pagar halaman Masjid Nabawi.

Salah satunya terdapat Masjid Al-Ghamamah yang terletak di barat daya Masjid Nabawi. Berjarak sekitar 500 meter dari Bab As-Salam. Masjid tersebut dibangun sebagai bentuk penghormatan atas kebiasaan Rasulullah SAW mendirikan salat di tempat tersebut itu. Sebab itulah didirikan sebuah masjid yang diberi nama Masjid Al-Mushalla, yakni masjid tempat salat.

Di lokasi yang sekarang menjadi masjid ini pula riwayatnya Rasulullah SAW melaksanakan salat Idul Fitri dan Idul Adha. Hal tersebut merujuk pada salah satu hadits riwatat Abu Hurairah yang berkata, 'Setiap kali Rasulullah SAW melalui Al-Mushalla, Baginda akan menghadap ke arah kiblat dan berdoa'.

Karena masjid tersebut sering digunakan Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakan dua hari raya, maka juga seringkali disebut Masjid Id (Hari Raya). Sejarahnya Rasulullah SAW menunaikan salat Idul Fitri dan Idul Adha di empat tahun kehidupan beliau di lokasi Al-Mushalla.

Sementara dari riwayat lain disampaikan, pada suatu saat Rasulullah SAW berkhutbah Idul Fitri hingga jemaah mulai resah dan gelisah. Pasalnya khutbah Beliau terlampau panjang atau lama sehingga semua jemaah merasa kepanasan karena terik matahari.

Seketika itu datang mendung atau awan tebal yang menutupi matahari hingga Rasulullah SAW selesai menyampaikan khutbah Beliau. Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangunlah masjid yang diberi nama Masjid Ghamamah yang berarti awan atau mendung.

 

Setelah salat, Nabi Muhammad SAW segera berdoa memohon kepada Allah SWT untuk menurunkan hujan. Atas permintaan kekasih-Nya, Allah SWT mengabulkan doa tersebut. Begitu Nabi Muhammad SAW berlalu, tiba-tiba Kota Madinah diselimuti awan gelap yang lantas diiringi hujan lebat. Tentu saja, hujan yang dimaksudkan merupakan hujan yang memberi rahmat bagi umat manusia.

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan, Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah [2]: 22). Untuk memperingati peristiwa itu, Nabi Muhammad SAW serta para sahabat sepakat untuk membangun sebuah masjid dan menamakannya Masjid Al Ghamamah yang berarti Masjid Awan.

Masjid ini sekarang tidak terlalu sering dipakai. Ketika Kedaulatan Rakyat bersama Tim MCH Madinah 2019 melihat lebih dekat, pintunya sering terkunci rapat. Beberapa petugas berjaga di depan masjid. Sejumlah jemaah juga berkesempatan salat di dalam masjid tersebut. Hanya saja, Masjid Al Ghamamah tidak lagi dipakai untuk melaksanakan salat Idul maupun Idul Adha serta Salat Jumat karena semua dipusatkan di Masjid Nabawi. (Feb)

BERITA REKOMENDASI