Giliran Akademi Militer Turki akan Ditutup

ANKARA (KRjogja.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terus menguatkan pengawasan pasca kegagalan kudeta militer pada Jumat 15 Juli 2016. Pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) itu ingin menutup akademi militer nasional demi mencegah perpecahan di militer.

Pria berusia 62 tahun itu juga akan menempatkan badan intelijen serta kepala staf militer Turki langsung berada di bawah kendalinya. Erdogan menuturkan, proposal perubahan tersebut tengah disiapkan untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Parlemen Turki.

“Kami akan mengenalkan paket konstitusional baru. Jika disahkan, Badan Intelijen Nasional (MIT) dan kepala staf militer berada di bawah kontrol presiden,” ujar Erdogan dalam sebuah wawancara televisi, seperti dimuat BBC, Minggu (31/7/2016).

“Akademi militer akan ditutup. Kami akan membangun Universitas Pertahanan Nasional yang baru. Jumlah polisi militer juga akan dikurangi. Namun, persenjataan akan ditambah,” sambung mantan Wali Kota Istanbul itu.

Proposal Paket Konstitusional itu harus setuju untuk diadopsi setidaknya oleh dua per tiga mayoritas anggota Parlemen. Erdogan juga harus mengamankan dukungan penuh dari partai-partai oposisi seperti HDP yang berseteru dengannya terkait isu suku Kurdi.

Pada Kamis 28 Juli, Turki mengumumkan reshuffle di militernya. Mereka memecat 1.700 tentara yang 40 persen di antaranya berpangkat Jenderal dan Laksmana. Lebih dari 66 ribu pegawai negeri sipil (PNS) juga dicopot dan hampir 50 ribu paspor orang yang diduga bersekutu dengan Fethullah Gulen, si tertuduh dalang kudeta. (*)

 

BERITA REKOMENDASI