Giliran Uni Eropa Tak Akui Yerusalem Ibukota Israel

Editor: Ivan Aditya

BELGIA, KRJOGJA.com – Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berangkat ke Eropa untuk mengajak para sekutunya bergabung dengan Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Namun, langkah itu mendapatkan penolakan keras dari para menteri Uni Eropa yang memandang kebijakan baru AS menghambat proses perdamaian.

Dalam kunjungan pertamanya ke markas Uni Eropa di Brussels, Netanyahu mengatakan langkah Trump membantu proses perdamaian karena "mengakui kenyataan adalah bagian dari perdamaian, dasar dari perdamaian."

Israel yang mencaplok Yerusalem Timur setelah mendudukinya dalam perang 1967 menganggap seluruh bagian dari kota tersebut sebagai ibu kotanya. Sementara itu, warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya jika mendapatkan kemerdekaan penuh di masa yang akan datang.

Pemerintah Trump mengatakan masih berkomitmen pada proses perdamaian dan keputusannya tidak memengaruhi perbatasan atau status Yerusalem di masa depan. AS juga menyatakan kesepakatan perdamaian kredibel apapun kelak akan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan meninggalkan kebijakan lama harus dilakukan untuk mengembalikan proses damai yang mangkrak sejak 2014.

Namun, bahkan para sekutu terdekat Israel di Eropa menolak logika tersebut dan menyatakan pengakuan ibu kota Israel secara sepihak berisiko memicu kekerasan dan merusak kesempatan berdamai.

Setelah jamuan sarapan dengan Netanyahu dan menteri-menteri luar negeri Eropa, Menlu Swedia menyatakan tidak ada satupun perwakilan negara benua biru yang menyuarakan dukungan atas kebijakan Trump dalam pertemuan tertutup itu. (*)

BERITA REKOMENDASI